Akselerasi Pendidikan Dokter Gigi Indonesia di Era Globalisasi “Lulus Cepat, Bisa Apa?”

Oleh : Andi Annisa Eka Aprilda

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasamuddin

Globalisasi; sebagai arus mendunianya segala aspek kehidupan menjadikan pola pikir masyarakat untuk senantiasa melakukan pembaharuan dan rekonstruksi sumber daya. Terlebih lagi di era bebasnya perdagangan ASEAN, mobilitas dan persaingan informasi menjadi semakin cepat dan ketat di setiap sisi-sisi kehidupan. Tentunya hal ini tidak terlepas pada persaingan sumber daya manusianya. Sudut pandang yang paling krusial, adalah ketersediaan kualitas praktisi kesehatan di Indonesia khususnya praktisi kesehatan gigi dan mulut.

Dokter gigi merupakan profesi yang sangat berperan penting dalam mewujudkan derajat kesehatan gigi dan mulut manusia secara khusus, sehingga mampu menciptakan derajat kesehatan manusia secara umum. Seorang praktisi kesehatan gigi sangat dituntut dalam hal kualitas ilmu yang kokoh dengan skala kompetensi yang profesional. Tercapainya harapan ini, tidak terlepas dari kualitas sistem pendidikan yang mencetak para dokter gigi tersebut.
Pada hakikatnya, sistem pendidikan dokter gigi di Indonesia saat ini terdiri atas tahap akademik dan tahap profesi. Tahap akademik adalah pendidikan sarjana yang bertujuan meraih kompetensi melalui pembangunan kemampuan dasar sesuai dengan ketetapan pada standar kompetensi dokter gigi. Tahap profesi adalah pendidikan setelah pendidikan sarjana kedokteran gigi yang bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi klinik tertentu yang mencakup pembinaan sikap dan perilaku profesional sesuai dengan standar kompetensi dokter gigi yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Gigi Indonesia, untuk meraih gelar dokter gigi.

Akselerasi pendidikan menjadi topik yang sangat fenomenal dalam dunia pendidikan Indonesia dewasa ini. Di lingkup perguruan tinggi, institusi dan universitas berlomba-lomba menyajikan pendidikan dalam waktu yang lebih cepat. Apabila normalnya waktu jenjang pendidikan S1 (sarjana) ditempuh 4-5 tahun, maka dengan adanya program akselerasi ini hanya dapat ditempuh selama 3,5-4 tahun saja. Fenomena ini pun tidak luput mempengaruhi sistem pendidikan di bidang ilmu kesehatan, khususnya pendidikan dokter gigi.

Sistem akselerasi dirasa kurang tepat untuk diberlakukan pada bidang ilmu kesehatan. Apalagi untuk jenjang pendidikan calon dokter yang lingkup kerjanya adalah manusia, dengan segala hal kompleks yang menyertainya. Apalagi dengan standarisasi dari World Health Organization yang menetapkan bahwa seorang dokter yang ideal meliputi dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, sebagai pengambil keputusan, sebagai komunikator, sebagai pemimpin masyarakat, dan sebagai manajer. Pemangkasan masa studi hanya akan melahirkan kualitas lulusan dengan pengetahuan yang superficial. Pikirkan saja, masa belajar yang diperpendek akan berakibat mata
kuliah yang ada pun semakin diperpendek. Fatalnya, bagi bidang ilmu kedokteran hal ini tidak dapat dibiarkan terjadi.

Jika kita membandingkan kualitas lulusan pendidikan dokter gigi dahulu, dengan saat ini terdapat perbedaan yang besar dari skala penguasaan materi dan keterampilan klinik. Lulusan dokter gigi yang lahir dari rahim akselerasi saat ini cenderung kurang penguasaan dan keterampilan sehingga banyak timbul masalah pada saat ujian kompetensi dokter gigi. Hal ini wajar saja, sebab dengan ketersediaan waktu belajar yang singkat ditambah lagi dengan tugas yang terus menerus menghimpit, membuat mahasiswa kedokteran gigi hanya bisa memahami beberapa persen saja dari keseluruhan materi.

Kurikulum Student Centered Learning (SCL) adalah sistem balajar yang diterapkan hari ini di kelas pendidikan Indonesia. Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa ini merupakan model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses belajar. Dalam penerapan konsep Student Centered Leaning, peserta didik diharapkan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinitiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Di dalam batas-batas tertentu mahasiswa dapat memilih sendiri apa yang akan dipelajarinya.

Permasalahan yang timbul adalah banyaknya penyimpangan fungsi dan penyalahgunaan sistem pembelajaran ini oleh mahasiswa. Beberapa mahasiswa mungkin memanfaatkan sistem ini dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat disesuaikan dengan potensi intrinsik dalam diri untuk belajar seperti apa yang dibutuhkan. Sayangnya, bagi mereka yang tidak memperhatikan kesempatan ini akan tenggelam dalam masa bodoh dan penyia-nyiaan waktu belajar yang diberikan kepadanya.

Indonesia di abad 21 ini bukan lagi masanya untuk menonjolkan kuantitas lulusan yang cepat waktu. Apalah artinya jumlah lulusan praktisi kesehatan yang kuantitasnya cepat, namun kualitasnya tidak tepat. Dampaknya tentu sangat besar terhadap pelayanan masyarakat serta telah menjadi tanggung jawab moril bagi dokter tersebut untuk mengutamakan profesionalisme dalam kerjanya. Cepat boleh saja, dengan syarat pengetahuan dan keterampilan yang tepat sebagai benar-benar lulusan dokter gigi yang siap mengabdi dalam masyarakat.

Leave a Reply

  • (will not be published)


five − 4 =