Lomba Hardiknas PSMKGI 2016

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016, Komisi A PSMKGI mengadakan lomba artikel pendidikan dan lomba foto instagram. Lomba ini terbuka bagi seluruh mahasiswa kesehatan di Indonesia. Ayo ikuti lombanya dan menangkan hadiah menarik dari PSMKGI. Berikut info selengkapnya.

 

LOMBA ARTIKEL PENDIDIKAN

1

Ketentuan Umum

  • Lomba artikel pendidikan ini bertema “Pendidikan Tenaga Kesehatan Indonesia untuk Tercapainya Indonesia Sehat”
  • Lomba ini terbuka untuk mahasiswa kesehatan Indonesia
  • Karya yang dikirimkan merupakan karya pribadi/perorangan yang belum pernah dipublikasikan atau diikutkan dalam perlombaan apapun
  • Peserta dapat mengirimkan maksimal 1 judul artikel
  • Artikel yang sudah dikirimkan akan menjadi hak milik panitia, keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
  • Peserta wajib menaati tata tertib dan peraturan yang ada
  • Perubahan-perubahan akan disesuaikan dengan keadaan dan kesepakatan

Mekanisme Pendaftaran dan Pengiriman Artikel

  • Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran di bit.ly/formlombaartikel
  • Artikel dikirim ke email komisi-a@psmkgi.org
  • Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran
  • Format subject pada email adalah Lomba Artikel Pendidikan PSMKGI 2016/Judul Artikel
  • Format file berupa pdf ditulis Lomba Artikel 2016_Judul Artikel
  • Setelah mengirim email, peserta wajib segera melakukan konfirmasi pengiriman artikel ke nomer 085642849094(Intan)/line: intansahadi atau 081220005895(Fidya)/line: fidyakemala dengan format :

LAPPSMKGI_2016(slash)Nama(slash)Angkatan(slash)Asal Institusi(slash)Judul Artikel

Contoh : LAPPSMKGI_2016/Intan Kumala Sari/2013/Universitas Islam Sultan Agung/ Pendidikan Tenaga Kesehatan Indonesia untuk Tercapainya Indonesia Sehat

  • Pengiriman artikel paling lambat 27 April 2016, pengumuman pemenang 2 Mei 2016

 Format Penulisan Artikel

 Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia

  • Format tulisan Times New Roman ukuran 12, Spasi 1,15, Margin Right-Left-Top-Bottom 3 cm, Kertas A4
  • Memuat minimal 500 kata, maksimal 700 kata sudah termasuk judul
  • Judul artikel ditulis dengan format Bold-Center, sedangkan isi artikel Align Text Left (non-Bold)
  • Nama Penulis dicantumkan di bawah judul artikel


 LOMBA FOTO INSTAGRAM

2

Bagi kalian yang suka dengan fotografi dan mengunggahnya ke media sosial, kalian dapat mengikuti lomba Foto Instagram Hardiknas PSMKGI 2016. Caranya mudah, tinggal upload saja foto kreatifmu yang bertemakan “Wajah Pendidikan Indonesia” sertai dengan caption yang menarik yang sesuai dengan fotomu dan tambahkan hastag #hardiknaspsmkgi2016 dan tag kea kun resmi instagram @adminpsmkgi. Foto yang masuk akan dilakukan penilaian oleh pihak Komisi A dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 2 Mei 2016.

 

Contact person :

Intan – 085642849094 / Line: intansahadi

Fidya – 081220005895 / Line: fidyakemala

PERSIAPAN UKMP2DG PERIODE APRIL 2016

STANDART OPERASIONAL PROSEDUR PERSIAPAN UKMP2DG

KOMISI A PSMKGI

1. Forum ini merupakan forum untuk persiapan UKMP2DG.

2. Komisi A PSMKGI hanya sebagai fasilitator dalam forum.

3. Setiap institusi yang akan mengikuti UKMP2DG mengirimkan perwakilan sebanyak lima orang kepada staff Komisi A PSMKGI di masing-masing institusinya.

4. 5 orang perwakilan tersebut wajib berkoordinasi dengan rekan se-institusinya yang akan mengikuti UKMP2DG.

5. Setiap periode harus menunjuk satu orang sebagai koordinator forum yang nantinya akan berkoordinasi dengan Komisi A PSMKGI.

6. Perwakilan harus bisa bekerja sama dengan perwakilan lainnya dalam membahas soal ataupun persiapan lainnya.

7. Setiap anggota forum tidak diperkenankan meng-invite dan meninggalkan forum tanpa sepengetahuan koordinator forum dan Komisi A.

8. Soal dan bahan ujian lainnya disetorkan ke email ukmp2dgindonesia@gmail.com atas persetujuan koordinator forum dan konfirmasi dari Komisi A.

9. Komisi A PSMKGI tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi di luar forum.

Bagi Mahasiswa Profesi Perwakilan Institusi yang akan Mengikuti Ujian UKMP2DG Periode April bisa mengisi formulir di link berikut ini : http://goo.gl/forms/V4OufVFBZT

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2015

1430478835554Salam sejahtera bagi kita semua para aktivis dan pejuang kesehatan Indonesia. Setiap tanggal 2 Mei kita memperingati tanggal tersebut sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal yang merupakan tanggal kelahiran pahlawan nasional Ki Hadjar Dewantoro diperingati sebagai momentum perayaan dan evaluasi di bidang pendidikan.

Pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral, itulah salah satu cuplikan sambutan dari Bapak Mendikbud RI dalam peringatan Hardiknas 2015. Namun bagi kita mahasiswa, sudahkah kita meresapi pentingnya pendidikan?

Gerakan pentingnya dan peduli pendidikan saat ini marak dilaksanakan oleh generasi muda sebagai langkah pencerdasan untuk bangsa. Dengan kegiatan PSMKGI Mengajar di bulan Mei ini, mahasiswa kedokteran gigi Indonesia juga ikut dalam upaya pencerdasan bangsa. Selain itu, lomba menulis artikel dengan tema “Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia di Era Globalisasi”, menjadi sarana untuk mengasah intelektualitas mahasiswa kedokteran gigi Indonesia. Menyongsong hadirnya MEA di akhir 2015, peningkatan kualitas pendidikan kedokteran gigi Indonesia harus meningkat untuk mencetak lulusan dokter gigi yang siap bersaing di era global namun tetap berkarakter Pancasila.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh institusi yang telah berkontribusi aktif dalam kegiatan Hardiknas PSMKGI, baik melalui lomba artikel dan PSMKGI Mengajar. Berikut kami tautkan link untuk mendownload file kompilasi artikel pendidikan yang masuk ke kami, semoga artikel-artikel dari semua peserta lomba dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Link download : http://bit.ly/hardiknaspsmkgi2015

“Quo Vadis” Standardisasi Pendidikan Dokter Gigi Indonesia

Oleh: Muhammad Fahmi Alfian

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Globalisasi, suatu kata yang sangat familier dan saat ini memberikan berbagai dampak signifikan di masyarakat dunia. Globalisasi dimaknai dengan dunia yang tanpa batas, transaksi perdagangan bebas mulai dari barang hingga jasa6. Sektor jasa yang kian bebas sama artinya dengan persaingan tinggi dalam mencari kerja. Salahsatu dampak globalisasi itulah yang kemudian menyebabkan profesionalisme kian menjadi tuntutan. Profesionalisme tentu tidak dapat diperoleh secara instan namun melalui proses, salahsatunya melalui pendidikan yang berkualitas.

Tantangan Indonesia dalam menghadapi globalisasi dalam waktu dekat ini adalah ASEAN Community. Per 1 Januari 2016, seluruh negara ASEAN telah sepakat akan memasuki babak baru tersebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sebagai salahsatu implementasinya5. Transformasi tersebut tentu menimbulkan efek bak pisau bermata dua. Kondisi Indonesia yang saat ini terbesar di Asia Tenggara dan memiliki penduduk terbanyak namun dengan rasio dokter gigi yang rendah5, akan menjadi zona target yang empuk sekaligus hanya menjadi pasar semata apabila kita tidak mampu mengantisipasinya. Tantangan muncul ketika dokter gigi Indonesia memiliki kualifikasi yang tinggi dan mampu bekerja di negeri seberang, namun sebaliknya apabila kualitas lulusan rendah maka dokter gigi asing yang lebih profesional akan berpeluang bekerja di Indonesia. Oleh karena itu, perlu persiapan khusus dan peningkatan kualitas di bidang kedokteran gigi agar dapat turut bermain di pentas MEA. Salahsatu upaya persiapan terhadap arus globalisasi tersebut yakni standardisasi4.

Standardisasi merupakan salahsatu tameng paling ampuh dalam menjalani globalisasi tak terkecuali dalam sektor pendidikan dokter gigi. Salahsatu indikator penerapan standar dalam sektor pendidikan adalah akreditasi. Akreditasi berperan cukup penting karena dapat menunjukkan indikator jaminan mutu dan penyetaraan kualitas pendidikan. Akreditasi sektor pendidikan dokter gigi di Indonesia saat ini masih perlu mendapat perhatian khusus. Data yang dihimpun melalui BAN-PT per 12 April 2015 menunjukkan bahwa peringkat akreditasi dari 31 institusi Program Studi Kedokteran Gigi se-Indonesia yang memiliki kriteria sangat baik hanya sejumlah 22%, kriteria baik 23%, kriteria cukup 42%, dan sisanya masih dalam proses serta belum diakreditasi sebanyak 13%2. Dapat disimpulkan bahwa peringkat akreditasi yang cukup rendah masih menduduki persentase terbanyak. Hal tersebut tentunya terjadi karena berbagai faktor, diantaranya program studi kedokteran gigi pada beberapa institusi masih tergolong baru didirikan dan masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, beberapa institusi baru memperoleh izin operasional serta dalam proses mengajukan proses akreditasi.

Akreditasi diterapkan salahsatu tujuannya adalah untuk memenuhi standar mutu, perlindungan masyarakat, dan kelayakan program3. Beberapa poin penting dalam akreditasi yang masuk dalam penilaian, diantaranya adalah tata pamong yang baik (good governance); mahasiswa dan lulusan; kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik; serta pembiayaan, sarana prasarana, dan sistem informasi3. Akreditasi sangat penting sebagai tolok ukur capaian institusi dalam menjamin seluruh aspek tersebut. Rendahnya persentase akreditasi tersebut mampu menggambarkan kualitas institusi pendidikan dokter gigi Indonesia hari ini. Tidak terpenuhinya standar mutu maka rentan menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi rendah dan profesionalisme yang diragukan.

Situasi peringkat akreditasi nasional yang saat ini masih belum memenuhi harapan, dihadapkan dengan kenyataan persaingan tingkat global dalam MEA mendatang. Idealnya, saat ini institusi di Indonesia telah memenuhi standardisasi yang lebih tinggi lagi dan melangkah ke jenjang akreditasi dalam skala regional ASEAN yakni AUN-QA SAR (ASEAN University Network-Quality Assurance Self Assessment Report)1. Apabila institusi telah memenuhi standar tersebut, tentu akan memberikan dampak positif berupa institusi yang dianggap setara di level ASEAN, kualitas lulusan perguruan tinggi akan semakin diakui dan lebih optimis dalam bersaing di pada pentas MEA mendatang. Ironisnya kondisi saat ini, paradigma yang berlaku nampaknya hanya sekedar memacu kuantitas namun sedikit mengabaikan kualitas. Dampaknya terhadap kualifikasi dokter gigi sungguh nyata, apabila tidak dibenahi dalam jangka waktu yang panjang.

Permasalahan tersebut tentu dapat diatasi dengan melibatkan seluruh elemen kampus. Mahasiswa dapat memperjuangkan setiap pokok penilaian akreditasi agar dipenuhi dan diupayakan oleh institusi secara nyata. Peran nyata ini contohnya dalam
memberikan masukan selama proses akreditasi, misalnya pada bagian sarana dan prasarana serta kurikulum yang bersinggungan dengan mahasiswa setiap hari. Semakin meningkatnya kesadaran pentingnya standardisasi sektor pendidikan, maka setiap insan civitas akademika akan mendorong institusi untuk senantiasa meningkatkan mutu sekaligus pelayanan dalam rangka untuk kualitas pendidikan yang lebih baik. Hal ini selaras dengan tujuan diadakan akreditasi yaitu agar selalu melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu tinggi1. Kesadaran itu perlu dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama yakni kualitas lulusan dokter gigi Indonesia yang semakin profesional dan mampu bersaing di era globalisasi secara nyata. Semoga.

Sumber referensi
1. AUN Secretariat, 2013, Guidelines for AUN Quality Assessment and Assessors, Thailand.
2. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, http://ban-pt.kemdiknas.go.id/hasil-pencarian.php (12/04/15)
3. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, 2014, Buku I Naskah Akademik Akreditasi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Jakarta.
4. Iswanto, P., 2014, Peluang dan Tantangan Komunitas Ekonomi ASEAN, disampaikan dalam Presentasi Dentistry Interprofessional Seminar FKG UGM, tanggal 11 Oktober 2014.
5. Penerbit Buku Kompas, 2015, Tinjauan Kompas: Menatap Indonesia 2015 Antara Harapan dan Tantangan, PT. Gramedia, Jakarta.
6. UNESCO, What is Globalisation?, http://www.unesco.org/education/tlsf/mods/ theme_c/mod18.html?panel=3#top (19/04/15)

Interprofessional Education (IPE): Inovasi Pendidikan dan Penelitian di Bidang Kedokteran Gigi Berbasis Kolaborasi

Andi Sri Permatasari

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasamuddin

Kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian serius. Hal ini terlihat bahwa penyakit gigi dan mulut masih diderita oleh 90% penduduk Indonesia. Sejak dahulu juga telah diketahui hubungan antara kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan sistemik. Sehingga kita perlu menyadari bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan integral dari kesehatan secara umum yang juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Kontribusi dan kolaborasi yang efektif dari berbagai disiplin ilmu merupakan kunci dari pelayanan kesehatan memberi dampak positif dalam penyelesaian berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut.

Pendidikan dan penelitian adalah kunci untuk mengembangkan dan meningkatkan metode serta kualitas pelayanan kesehatan ke masyarakat. Namun permasalahan umum yang dihadapi oleh mahasiswa kedokteran gigi adalah  minimnya kegiatan penelitian. Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan pendidikan di luar negeri. Oleh karena itu terkait usaha peningkatan mutu sumber daya dan profesionalitas tenaga kesehatan di era global diperlukan inovasi dan strategi yang dimulai pada level sistem pendidikan kedokteran gigi itu sendiri diikuti dengan peningkatan penelitian di Indonesia melalui Interprofessional education yang berbasis kolaborasi.

Interprofessional education atau yang biasa disingkat IPE adalah satu inovasi dalam konsep pendidikan profesi kesehatan yang dicetuskan oleh WHO. IPE merupakan suatu proses dimana sekelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang memiliki perbedaan latar belakang profesi melakukan pembelajaran bersama dalam periode tertentu, berinteraksi dan berkolaborasi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative. Penerapan sistem IPE dalam dunia pendidikan kesehatan di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kualitas mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa kedokteran gigi di Indonesia dalam 3 aspek yang terdapat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi dalam upaya pembangunan kesehatan Indonesia. Agar tenaga kesehatan kedepannya terbiasa melakukan kolaborasi saat di tatanan pelayanan maka perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan pendidikan dengan konsep IPE.

IPE dalam dunia pendidikan dan penelitian melibatkan mahasiswa kesehatan dari berbagai profesi untuk saling belajar secara berdampingan. IPE menekankan kerja sama tim, memahami peran profesi yang lain, tanggung jawab, komunikasi, saling menghormati, dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1996, Universitas Linkoping Swedia memasukkan kurikulum IPE ke dalam kurikulumnya. Mahasiswa kesehatan dari berbagai disiplin ilmu membahas kasus bersama dan diakhir program mereka memberikan paparan tentang kasus tersebut dengan pendekatan holistik.

Penerapan IPE dalam dunia pendidikan dan penelitian dalam bidang kedokteran gigi seharusnya dilakukan sehingga mahasiswa akan terlatih untuk ambil bagian di dalam sebuah tim, bagaimana bisa berkontribusi, mendengar pendapat, dan berdiskusi demi tujuan, bukan hanya dengan mahasiswa jurusan yang sama tetapi juga dengan mahasiswa program kesehatan lain. Pembelajaran IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional di bidang kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain, sehingga dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan dan peningkatan dalam sistem layanan kesehatan secara signifikan di Indonesia.

Kita sebagai mahasiswa kesehatan harus mendukung dan ikut aktif berpartisipasi dalam penerapan sistem Interprofessional education. Sistem ini adalah sistem yang paling efektif yang dapat diimplementsikan dalam sistem pendidikan kesehatan dunia. Sudah banyak bukti dan penelitian yang menunjukkan berbagai manfaat sistem ini. Interprofessional education juga memberikan suatu batasan terhadap wewenang profesi satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada bidang profesi yang merasa terdiskriminasi. Maka dari itu, sebagai mahasiswa calon tenaga kesehatan kita harus mendukung pelaksanaan sistem ini di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui kemampuan interprofessional.

Sekarang adalah masa yang penuh tantangan dan peluang di bidang kedokteran gigi. IPE memberikan kita kesempatan untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait ilmu kedokteran gigi dan mengintegrasikannya dengan kesehatan sistemik. Mahasiswa kedokteran gigi juga harus berperan aktif dalam melakukan penelitian-penelitian yang berbasis kolaborasi. Sehingga dapat muncul solusi-solusi cerdas dari permasalahan yang ada di bidang kedokteran gigi. Perkembangan pesat diagnostik saliva dapat membuka lebih banyak kesempatan untuk dokter gigi untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan kesehatan umum. Selain itu standar akreditasi baru untuk profesi dokter gigi menyatakan bahwa lulusan harus kompeten dalam berkomunikasi dan berkolaborasi dengan anggota lain dari tim kesehatan untuk memfasilitasi penyediaan layanan kesehatan dan jelas bahwa sistem Interprofessional education diharapkan umtuk berperan penting dalam kurikulum kita.

Implementasi Program 3K Sebagai Suplemen Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia di Era Asean Free Trade Area

Penulis: Johan Adiyasa

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Pada tahun 2015 ini, negara-negara yang tergabung dalam Association of South East Asian Nations (ASEAN), termasuk Indonesia, akan memulai pasar bebas di bidang pengadaan barang dan jasa. Di bidang jasa, dokter gigi merupakan salah satu profesi yang diliberalisasi oleh adanya perjanjian ini. Pada satu sisi, keberadaan ASEAN Free Trade Area (AFTA) ini dipandang sebagai peluang bagi dokter gigi Indonesia untuk melebarkan sayap ke negeri tetangga dan merupakan kesempatan terjadinya pemerataan jumlah dokter gigi di setiap negara anggota ASEAN. Namun, di sisi lain AFTA juga dipandang sebagai ancaman dimana dokter gigi Indonesia harus bersaing dengan dokter gigi asing. Untuk mampu bersaing, dokter gigi Indonesia tentunya harus memiliki kompetensi yang lebih dan dapat ditonjolkan kepada masyarakat umum. Oleh sebab itu, diperlukan pembaharuan kurikulum pendidikan kedokteran gigi Indonesia yang aplikatif dan berkesinambungan sehingga dapat meningkatkan kompetensi lulusan dokter giginya.

Program K3 merupakan sebuah program suplemen pendidikan kedokteran gigi Indonesia yang mencakup tiga hal, yakni kode etik profesi kesehatan, komunikasi kesehatan dan kolaborasi antar profesi kesehatan. Program 3K ini bertujuan agar lulusan dokter gigi Indonesia mampu berkolaborasi dengan rekan sejawatnya dan profesi kesehatan lainnya demi pelayanan kesehatan yang lebih baik. Untuk mampu berkolaborasi, mahasiswa harus mampu menguasai prinsip efektif dalam berkomunikasi, baik dengan pasien, rekan sejawat, dan profesi kesehatan lainnya. Dalam berkolaborasi dikenal pula sistem rujukkan. Untuk merujuk, calon dokter gigi harus mengerti secara keseluruhan batasan kompetensinya serta kompetensi tenaga kesehatan lainnya yang dapat dipelajari dalam mata kuliah kode etik profesi kesehatan.

Kode etik profesi kesehatan merupakan mata kuliah yang mengintegrasikan kode etik dan batasan kompetensi setiap tenaga kesehatan di Indonesia. Mata kuliah ini tidak hanya bertujuan agar setiap mahasiswa kedokteran gigi mengerti kompetensi dokter gigi saja, namun juga agar mahasiswa kedokteran gigi memahami kompetensi tenaga kesehatan lainnya. Hal ini disebabkan oleh berkembangnya sistem rujukan yang memprioritaskan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik oleh ahli di bidangnya. Dengan demikian, tentunya mahasiswa kedokteran gigi perlu menentukan apakah pasien perlu dirujuk dan kepada siapa pasien perlu dirujuk? Apabila sistem rujukan ini berjalan dengan efektif, tentunya pasien juga akan merasakan manfaatnya dengan mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik diikuti dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat.

Komunikasi kesehatan merupakan mata kuliah yang mengedepankan prinsip berkomunikasi yang efektif. Komunikasi yang dimaksud disini tidak hanya komunikasi antara dokter gigi dengan profesi kesehatan lainnya, namun juga antara dokter gigi dengan pasien. Agar mampu berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya, dokter gigi Indonesia dituntut untuk mengedepankan sikap saling menghargai dengan rekan sejawat dan profesi kesehatan lainnya. Mahasiswa kedokteran gigi Indonesia akan menghadapi pasien dari segala usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Tentunya anak-anak dan lansia memiliki kondisi psikososial yang berbeda, untuk itu cara menghadapi dan berkomunikasi dengan pasien-pasien ini tentunya juga berbeda. Untuk itulah komunikasi kesehatan hadir untuk menjembatani celah antara mahasiswa dengan kelompok usia pasien yang berbeda tersebut.

Kolaborasi antar profesi kesehatan merupakan hal yang perlu ditonjolkan oleh dokter gigi Indonesia. Melalui hal ini, dokter gigi Indonesia mampu unggul ketika bersaing dengan dokter gigi asing karena dapat memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara holistik. Dalam berkolaborasi, tenaga kesehatan juga dapat membangun relasi dengan profesi kesehatan lainnya, serta dapat meminimalkan risiko terjadinya komplikasi pada pasien karena ditangani oleh ahli di bidangnya masingmasing. Dengan kata lain, tidak hanya pasien yang diuntungkan ketika tenaga kesehatan berkolaborasi, namun juga tenaga kesehatan itu sendiri.

Oleh sebab itu, ketika program 3K ini diimplementasikan sebagai suplemen pendidikan kedokteran gigi Indonesia, maka akan terjadi peningkatan kualitas kurikulum kedokteran gigi sehingga menghasilkan lulusan dokter gigi yang memandang keberadaan AFTA bukan sebagai ancaman, melainkan peluang bagi dokter gigi Indonesia untuk dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan Indonesia dan tenaga kesehatan asing demi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terbangunnya relasi yang sehat antara dokter gigi dengan rekan sejawat dan profesi kesehatan lainnya, serta meminimalisasi risiko kesalahan perawatan yang dapat terjadi.

Referensi:
1. Freshman, B., Rubino, L. and Chassiakos, Y. (2010). Collaboration across the disciplines in health care. Sudbury, Mass.: Jones and Bartlett Publishers.
2. Gerald Z. Wright. Behaviour Management in Dentistry for Children. (1975) Philadelphia: W.B. Saunders Co.
3. Wright, K. and Moore, S. (2008). Applied health communication. Cresskill, NJ: Hampton Press.

Akselerasi Pendidikan Dokter Gigi Indonesia di Era Globalisasi “Lulus Cepat, Bisa Apa?”

Oleh : Andi Annisa Eka Aprilda

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasamuddin

Globalisasi; sebagai arus mendunianya segala aspek kehidupan menjadikan pola pikir masyarakat untuk senantiasa melakukan pembaharuan dan rekonstruksi sumber daya. Terlebih lagi di era bebasnya perdagangan ASEAN, mobilitas dan persaingan informasi menjadi semakin cepat dan ketat di setiap sisi-sisi kehidupan. Tentunya hal ini tidak terlepas pada persaingan sumber daya manusianya. Sudut pandang yang paling krusial, adalah ketersediaan kualitas praktisi kesehatan di Indonesia khususnya praktisi kesehatan gigi dan mulut.

Dokter gigi merupakan profesi yang sangat berperan penting dalam mewujudkan derajat kesehatan gigi dan mulut manusia secara khusus, sehingga mampu menciptakan derajat kesehatan manusia secara umum. Seorang praktisi kesehatan gigi sangat dituntut dalam hal kualitas ilmu yang kokoh dengan skala kompetensi yang profesional. Tercapainya harapan ini, tidak terlepas dari kualitas sistem pendidikan yang mencetak para dokter gigi tersebut.
Pada hakikatnya, sistem pendidikan dokter gigi di Indonesia saat ini terdiri atas tahap akademik dan tahap profesi. Tahap akademik adalah pendidikan sarjana yang bertujuan meraih kompetensi melalui pembangunan kemampuan dasar sesuai dengan ketetapan pada standar kompetensi dokter gigi. Tahap profesi adalah pendidikan setelah pendidikan sarjana kedokteran gigi yang bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi klinik tertentu yang mencakup pembinaan sikap dan perilaku profesional sesuai dengan standar kompetensi dokter gigi yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Gigi Indonesia, untuk meraih gelar dokter gigi.

Akselerasi pendidikan menjadi topik yang sangat fenomenal dalam dunia pendidikan Indonesia dewasa ini. Di lingkup perguruan tinggi, institusi dan universitas berlomba-lomba menyajikan pendidikan dalam waktu yang lebih cepat. Apabila normalnya waktu jenjang pendidikan S1 (sarjana) ditempuh 4-5 tahun, maka dengan adanya program akselerasi ini hanya dapat ditempuh selama 3,5-4 tahun saja. Fenomena ini pun tidak luput mempengaruhi sistem pendidikan di bidang ilmu kesehatan, khususnya pendidikan dokter gigi.

Sistem akselerasi dirasa kurang tepat untuk diberlakukan pada bidang ilmu kesehatan. Apalagi untuk jenjang pendidikan calon dokter yang lingkup kerjanya adalah manusia, dengan segala hal kompleks yang menyertainya. Apalagi dengan standarisasi dari World Health Organization yang menetapkan bahwa seorang dokter yang ideal meliputi dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, sebagai pengambil keputusan, sebagai komunikator, sebagai pemimpin masyarakat, dan sebagai manajer. Pemangkasan masa studi hanya akan melahirkan kualitas lulusan dengan pengetahuan yang superficial. Pikirkan saja, masa belajar yang diperpendek akan berakibat mata
kuliah yang ada pun semakin diperpendek. Fatalnya, bagi bidang ilmu kedokteran hal ini tidak dapat dibiarkan terjadi.

Jika kita membandingkan kualitas lulusan pendidikan dokter gigi dahulu, dengan saat ini terdapat perbedaan yang besar dari skala penguasaan materi dan keterampilan klinik. Lulusan dokter gigi yang lahir dari rahim akselerasi saat ini cenderung kurang penguasaan dan keterampilan sehingga banyak timbul masalah pada saat ujian kompetensi dokter gigi. Hal ini wajar saja, sebab dengan ketersediaan waktu belajar yang singkat ditambah lagi dengan tugas yang terus menerus menghimpit, membuat mahasiswa kedokteran gigi hanya bisa memahami beberapa persen saja dari keseluruhan materi.

Kurikulum Student Centered Learning (SCL) adalah sistem balajar yang diterapkan hari ini di kelas pendidikan Indonesia. Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa ini merupakan model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses belajar. Dalam penerapan konsep Student Centered Leaning, peserta didik diharapkan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinitiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Di dalam batas-batas tertentu mahasiswa dapat memilih sendiri apa yang akan dipelajarinya.

Permasalahan yang timbul adalah banyaknya penyimpangan fungsi dan penyalahgunaan sistem pembelajaran ini oleh mahasiswa. Beberapa mahasiswa mungkin memanfaatkan sistem ini dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat disesuaikan dengan potensi intrinsik dalam diri untuk belajar seperti apa yang dibutuhkan. Sayangnya, bagi mereka yang tidak memperhatikan kesempatan ini akan tenggelam dalam masa bodoh dan penyia-nyiaan waktu belajar yang diberikan kepadanya.

Indonesia di abad 21 ini bukan lagi masanya untuk menonjolkan kuantitas lulusan yang cepat waktu. Apalah artinya jumlah lulusan praktisi kesehatan yang kuantitasnya cepat, namun kualitasnya tidak tepat. Dampaknya tentu sangat besar terhadap pelayanan masyarakat serta telah menjadi tanggung jawab moril bagi dokter tersebut untuk mengutamakan profesionalisme dalam kerjanya. Cepat boleh saja, dengan syarat pengetahuan dan keterampilan yang tepat sebagai benar-benar lulusan dokter gigi yang siap mengabdi dalam masyarakat.

Optimalisasi Pelayanan Dokter Gigi dalam Era Globalisasi dengan Peningkatan Mutu Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia

Danny Tandean
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

 

Era Globalisasi
Globalisasi adalah peristiwa mendunia atau proses membuana dari keadaan lokal atau nasional yang lebih terbatas sebelumnya. Dalam era globalisasi, beberapa bidang seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam kehidupan bernegara dapat terpengaruh dimana hal ini dapat berdampak langsung terhadap bidang kesehatan (Adisasmito W, 2008).
Pada bidang politik, isu kesehatan hanyalah dijadikan alat untuk kepentingan politik sehingga industri kesehatan dalam negeri tentunya kurang dapat bersaing secara bebas yang berimbas terhadap kemunduran dalam pergaulan global. Pada bidang ekonomi, ketidakpastian keadaan perekonomian dapat mengakibatkan tingkat kesehatan penduduk menjadi sangat rawan terhadap perubahan situasi ekonomi maupun global. Pada bidang sosial budaya, peningkatan angka kemiskinan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dapat berdampak langsung pada sektor kesehatan yang menyebabkan terjadinya penurunan derajat kesehatan masyrakat. (Adisasmito W, 2008).

Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia
Dunia pendidikan di Indonesia terus melakukan pembenahan diri demi mendapatkan hasil yang lebih baik terutama dalam era globalisasi yang menuntut output pendidikan agar dapat bersaing secara global maupun internasional. Menurut Wirakartakusumah (1998), dalam hal mencapai terselenggaranya pendidikan yang bermutu dan berkualitas telah muncul suatu istilah manajemen pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia di Indonesia dengan cara mengoptimalkan empat pilar manajemen pendidikan yaitu Otonomi, Akuntabilitas, Akreditasi, dan Evaluasi.
Otonomi dapat diartikan sebagai bentuk pendelegasian kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan staf pengajar, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta penentuan standar akademik. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output yang baik. Akreditasi merupakan suatu proses evaluasi tentang pengembangan mutu lembaga pendidikan dalam menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Evaluasi adalah suatu upaya sistematis dalam mengumpulkan dan memproses informasi yang menghasilkan kesimpulan tentang nilai, manfaat, serta
kinerja dari lembaga pendidikan atau unit kerja yang dievaluasi. Evaluasi perlu dilakukan agar solusi-solusi dalam menyelesaikan permasalahan dan kekurangan yang dimiliki dapat terpikirkan sehingga tercipta sistem pembenahan diri yang semakin baik (Solihin, 2012).

Upaya Optimalisasi Pelayanan Dokter Gigi
Pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal adalah kompetensi dan kualitas yang dimiliki oleh seorang dokter gigi. Menurut penelitian Hunter (2006), dibutuhkan penguasaan empat substansi dasar untuk menilai kompetensi dan kualitas seseorang yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), perilaku (attitudes), dan pengalaman (experiences). Pengetahuan teoritis didapat melalui sumber informasi, berupa hal-hal yang telah diyakini kebenarannya, sedangkan keterampilan mengedepankan kemampuan dalam melakukan tindakan suatu pengetahuan terutama profesi dokter gigi yang sangat mengedepankan keterampilan. Perilaku juga merupakan hal yang penting karena tidak ada gunanya memiliki segudang pengetahuan namun tidak dibarengi dengan akhlak yang baik. Pengalaman juga mengajarkan kita lebih banyak dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu yang kita dapat selama perkuliahan. Keempat hal ini sangat diperlukan oleh dokter gigi agar dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.
Faktor eksternal adalah tata kelola pelayanan kesehatan di Indonesia yang merujuk pada Sistem Kesehatan Nasional (SKN). SKN adalah bentuk penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Dalam SKN, ada tiga aspek yang dilaksanakan tenaga kesehatan yaitu aspek promotif, preventif dan kuratif. Namun pada kenyataannya, tenaga kesehatan khususnya tenaga kesehatan gigi lebih terkonsentrasi pada aspek kuratif, sementara aspek promotif dan preventif menjadi prioritas selanjutnya setelah aspek kuratif terlaksana. Selain puskesmas, terdapat juga praktik profesional dokter gigi swasta dimana seperti yang kita tahu bahwa biaya perawatan kesehatan gigi dan mulut tidak murah, sedangkan masyarakat umumnya memiliki keterbatasan finansial. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan rendahnya tingkat kesehatan gigi dan mulut di masyarakat.
Berdasarkan masalah tersebut, perlunya dibentuk suatu instrumen baru untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan gigi di Indonesia dengan cara mengimplementasikan skema dokter gigi keluarga dalam SKN yang diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan pengelolaan pelayanan kesehatan gigi primer di masyarakat. Dokter gigi keluarga diharapkan dapat menjadi gate-keeper dalam SKN sebagai pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan menerapkan sistem managed-care yang terdiri dari 3 pihak yaitu pemberi pelayanan kesehatan (dokter gigi keluarga), penjamin (pemerintah atau lembaga asuransi) dan penerima jasa pelayanan
kesehatan (masyarakat). Dokter gigi keluarga diharapkan dapat mengefektifkan penggunaan sumber daya manusia yang diperlukan agar dapat menyelesaikan seluruh keluhan masyarakat mengenai kesehatan gigi yang termasuk dalam batas kompetensi dan kewenangannya dalam memberikan pelayanan kesehatan.

LOMBA ARTIKEL PENDIDIKAN NASIONAL

intan lomba artikel

Ketentuan Umum

  • Lomba artikel pendidikan ini bertema “Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia di Era Globalisasi”
  • Lomba ini terbuka untuk mahasiswa Pendidikan Dokter Gigi Indonesia dengan mengirimkan bukti scan Kartu Tanda Mahasiswa
  • Karya yang dikirimkan merupakan karya pribadi/perorangan yang belum pernah dipublikasikan atau diikutkan dalam perlombaan apapun
  • Peserta dapat mengirimkan maksimal 1 judul artikel
  • Artikel yang sudah dikirimkan akan menjadi hak milik panitia, keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
  • Peserta wajib menaati tata tertib dan peraturan yang ada
  • Perubahan-perubahan akan disesuaikan dengan keadaan dan kesepakatan

Mekanisme Pendaftaran dan Pengiriman Artikel

  • Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran di http://goo.gl/forms/2p8UzZMX60
  • Artikel dikirim ke email komisi-a@psmkgi.org
  • Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran
  • Format subject pada email adalah Lomba Artikel Pendidikan PSMKGI 2015/Judul Artikel
  • Format file berupa pdf ditulis Lomba Artikel 2015_Judul Artikel
  • Setelah mengirim email, peserta wajib segera melakukan konfirmasi pengiriman artikel ke nomer 085642849094(Intan)/line: intansahadi atau 081220005895(Fidya)/line: fidyakemala dengan format :

LAPPSMKGI_2015(slash)Nama(slash)Angkatan(slash)Asal Institusi(slash)Judul Artikel

Contoh : LAPPSMKGI_2015/Intan Kumala Sari/2013/Universitas Islam Sultan Agung/Pentingnya Peningkatan Skill Kedokteran Gigi dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015

  • Pengiriman artikel paling lambat 19 April 2015, pengumuman pemenang 2 Mei 2015

Format Penulisan Artikel

  • Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia
  • Format tulisan Times New Roman ukuran 12, Spasi 1,15, Margin Right-Left-Top-Bottom 3 cm, Kertas A4
  • Memuat minimal 500 kata, maksimal 700 kata sudah termasuk judul
  • Judul artikel ditulis dengan format Bold-Center, sedangkan isi artikel Align Text Left (non-Bold)
  • Nama Penulis dicantumkan di bawah judul artikel

BIMKGI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia) Volume 3 No.2

Call For Paper

 BIMKGI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia) Volume 3 No.2

Oleh: Ayu Prativia-Humas BIMKGI

1

BIMKGI (Berkala Ilmiah  Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia) merupakan jurnal milik mahasiswa kedokteran gigi se-Indonesia. Jurnal BIMKGI berada dibawah naungan Jurnal BIMKES (Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Indonesia ) dan PSMKGI (Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran  Gigi Indonesia). Seluruh mahasiswa kedokteran gigi dari seluruh institusi dapat berkontribusi dalam Jurnal BIMKGI.

Kabar gembira bagi seluruh mahasiswa kedokteran gigi Indonesia yang hobi menulis karya ilmiah, pada tanggal 2 April 2015 BIMKES resmi membuka Call For Paper untuk penerbitan E-journal BIMKES khususnya BIMKGI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia) Volume 3 No.2. Artikel yang diterima untuk diterbitkan pada BIMKGI, yaitu:

  • Penelitian Epidemiologis
  • Penelitian Klinis
  • Penelitian laboratorium
  • Laporan kasus
  • Tinjauan pustaka
  • Advertorial

Alur pendaftaran dan informasi lengkap mengenai  Call For Paper dapat segera di akses melalui www.bimkes.org/pemanggilan-artikel/. Kalian juga bisa menghubungi contact person dari BIMKGI, Intan (085731231914) dan Via (081332050494). Tunggu apalagi? Segera kirimkan naskah kalian.  Jadilah penulis baik yang karya ilmiahnya dipublikasikan oleh BIMKES.  Kita tunggu kontribusi kalian hingga 7 Mei 2015. Salam Ilmiah! BIMKGI.

 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah”- Pramoedya Ananta Toer