Izin Penyelenggaraan PSKG FK UNMUL

izin-unmul

[INFO KEDOKTERAN GIGI]

SAMARINDA-

Bertempat di halaman Kampus PSKG FK Unmul, sebagai bentuk rasa syukur terbitnya izin yang telah lama dinanti tersebut, Rektor Unmul, Prof. Dr. H. Masjaya., M.Si didampingi para wakil rektor, dekan, jajaran Pemerintah Provinsi Kaltim, serta para Ikatan Keluarga Orang Tua Mahasiswa (IKOMA) berkumpul bersama dalam acara tasyakuran, Rabu, (28/12).

Diketahui, PSKG FK Unmul menerima mahasiswa baru pada tahun 2013 lalu, namun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tidak dapat kembali menerima mahasiswa karena diberlakukannya aturan moratorium izin pembukaan lembaga pendidikan tenaga kesehatan yang dikeluarkan Kemenristek Dikti.

Sebelumnya, kunjungan tim visitasi dari Kemenristek Dikti sudah kali ketiga dilakukan ke FK Unmul terkait pemberian izin Prodi. Adapun moratorium penerbitan izin Prodi Kedokteran Gigi untuk seluruh Indonesia telah berakhir mulai bulan Juni lalu.

Sementara itu, saat diberikan kesempatan menyampaikan sambutan, perwakilan orang tua mahasiswa mengapresiasi kinerja pimpinan universitas yang telah memperjuangkan agar keluarnya izin dan FK Unmul dapat kembali menyelenggarakan PSKG.

“Kami sebagai orang tua memang selama ini merasa resah, karena adanya moratorium izin tersebut dari Kementerian, jadi mohon dimaklumi. Harapan kami ke depan dengan adanya izin ini sebagai modal perkembangan PSKG agar nantinya bisa dibentuk Fakultas. Kami para orang tua dan masyarakat Kaltim sangat mengharapkan hal tersebut,” urainya.

Keinginan para orang tua mahasiswa, senada dengan kehendak rektor yang bercita-cita akan membentuk Fakultas Kedokteran Gigi di Kampus terbesar dan tertua di Kaltim ini. Karena menurut Rektor, kebutuhan dokter gigi di Kaltim sangat tinggi.

“Perjuangan yang sudah cukup menyita banyak waktu panjang. Sekarang yang harus kita lakukan adalah melengkapi segala kelengkapan dan persyaratan, terkhusus bagi mahasiswa yang sudah ada sekarang di program ini agar segera menyelesaikan studinya. Tahun depan, Unmul akan kembali menerima mahasiswa baru pada program ini untuk angkatan kedua, karena seperti kita ketahui bersama bahwa dokter gigi sangat dibutuhkan di tengah masyarakat kita,” serunya.

Para pimpinan universitas, terang rektor, juga telah melakukan banyak hal, diantaranya kerjasama dengan beberapa pihak untuk menunjang perkembangan PSKG dalam penyediaan infrastruktur di FK Unmul.

“Kami para pimpinan juga selalu meningkatkan kerjasama dengan para mitra untuk melengkapi infrastruktur di fakultas ini. Perjuangan kita memang panjang, namun hasilnya sudah dapat kita nikmati hari ini. Meski begitu tidak hanya sampai disitu saja, tetapi kita juga pada waktunya nanti bisa menghasilkan para alumni terbaik dari PSKG FK Unmul yang suskes di tengah masyarakat,” tambahnya. (hms)

(SUMBER : http://www.korankaltim.com/pskg-fk-unmul-siap-terima-mahasiswa-baru/)

Best Regards,
*PSMKGI 16-18*
~PROTAGONIS~
✅Profesional
💪Proaktif Bergerak
✊Sinergis Berkarya
🇮🇩 untuk Indonesia Tercinta.

🌎www.psmkgi.org
🔎@adminpsmkgi
✉️sekjen@psmkgi.org

Best Regards,
*PSMKGI 16-18*
~PROTAGONIS~
✅Profesional
💪Proaktif Bergerak
✊Sinergis Berkarya
🇮🇩 untuk Indonesia Tercinta.

🌎www.psmkgi.org
🔎@adminpsmkgi
✉️sekjen@psmkgi.org

World Oral Health Day 2016

POSTERTerdapat hubungan antara kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan tubuh kita secara keseluruhan. Pada suatu penelitian, 40% masyarakat dengan penyakit gusi yang parah juga dilaporkan menderita kondisi kronis lainnya. Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia bertujuan untuk mengedukasi masyarakat bahwa kesehatan gigi dan mulut yang baik bukan sekedar memiliki senyum yang indah, melainkan merupakan hal yang mendasar untuk kesehatan secara menyeluruh.

Dr. drg. Edoardo Cavalle mengungkapkan bahwa penyakit gigi dan mulut menyerang 3.9 juta orang diseluruh dunia, dengan 60% – 90% anak-anak menderita karies gigi. Namun, masih kurangnya pemahaman masyarakat akan kunci peranan kesehatan gigi dan mulut terhadap kesehatan tubuh secara menyeluruh. Langkah sederhana seperti menyikat gigi dua kali sehari selama dua menit sebaiknya diterapkan pada pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sehari-hari. Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia merupakan kesempatan emas untuk komunitas dokter gigi untuk membuat perbedaan yang nyata tentang kesehatan gigi dan mulut di seluruh dunia.

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 20 Maret. Hari ini merupakan hari internasional untuk memperingati akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut serta untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dunia akan pentingnya kebersihan gigi dan mulut. Hari ini merupakan hari untuk setiap orang bersenang-senang dengan aktifitas yang membuat tertawa, bernyanyi dan terswenyum. WOHD 2016 bertujuan agar setiap orang mengetahui dampak kesehatan gigi dan mulutnya terhadap kesehatan tubuhnya secara menyeluruh.

Semua berawal disini. Mulut Sehat. Tubuh Sehat.

Kalimat berikut merupakan pesan yang sangat menarik yang tertanam secara mendunia akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut, mendorong masyarakat untuk melakukan gerakan perubahan.

PSMKGI di Indonesia juga memperingati WOHD. Peringatan ini dilakukan diseluruh intitusi kedokteran gigi di Indonesia secara serentak pada tanggal 19 Maret 2016. Tema yang diangkat disesuaikan dengan tema dari FDI diatas, yaitu “Semua berawal disini. Mulut Sehat. Tubuh Sehat”. Target dan sasaran acara ini adalah siswa-siswi di tingkat sekolah dasar atau sederajat dengan bentuk kegiatan antara lain penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, sikat gigi bersama, pemeriksaan gigi dan mulut, senam bersama, bursh-day-and-night, dan lain-lain. Tujuan dari acara ini adalah untuk menanamkan kepada anak-anak tidak hanya untuk tahu tentang kesehatan gigi dan mulut, tetapi juga untuk menerapkannya pada kebiasaan rutin sehari-hari. Berikut dibawah ini merupakan beberapa dokumentasi dari kegiatan yang dilakukan di masing-masing institusi.

Mari kita menjaga kesehatan gigi dan mulut kita karena kesehatan gigi dan mulut akan berdampak bagi kesehatan tubuh kita. Menyikat gigi secara rutin dua kali sehari merupakan langkah nyata untuk melakukan perubahan dalam keseharian kita untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Jangan lupa untuk memeriksakan kesehatan gigi dan mulutmu ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. Viva PSMKGI !!!

UNSYIAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pramunas XIV PSMKGI

Oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

jaketPra Musyawarah Nasional merupakan salah satu agenda nasional PSMKGI yang bertujuan untuk melakukan laporan pertanggung jawaban komisi dan biro PSMKGI selama setengah periode kepengurusan, sebagai persiapan sebelum menuju Munas nantinya. Agenda nasional ini, kali ini diadakan di Jakarta, dan FKG Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menjadi tuan rumahnya.

Pramunas XIV PSMKGI diadakan pada tanggal 25 – 28 Februari 2016 bertempat di Hotel Telaga Golf Sawangan, Depok, Jakarta. Pada hari pertama, Opening Ceremony diadakan diadakan di FKG UPDM(B) dan dibuka oleh Dekan FKG UPDM(B), Dr. drg. Paulus Januar, MS. Kemudian acara dilanjutkan dengan presentasi lomba Operculum dan Mahasiswa Berprestasi PSMKGI 2016 di tempat yang sama.

snap 7Pada hari kedua, dilakukan salah satu agenda program kerja Komisi C, yaitu Senyum Luar Biasa (SLB). SLB kali ini diadakan di Yayasan SLB Bhakti Luhur. Acara ini dilakukan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut kepada teman-teman SLB dan melakukan sikat gigi bersama. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan agenda rapat. Agenda rapat dilakukan di Meeting Room Hotel Telaga Golf Sawangan pada hari kedua dan ketiga, dengan Fachmi Muzaqii sebagai pemimpin rapat, selaku sekretatis jenderal PSMKGI. Agenda rapat berisi pembahasan tata tertib rapat, laporan pertanggung jawaban komisi dan biro PSMKGI, koordinator institusi, serta pemegang tender agenda nasional sebelumnya, yaitu Rakernas (UNPAD), Baksosnas (ULM) dan Dies Natalis (UMS).

Gala dinner Pramunas dilakukan pada malam hari ketiga, bertempat di Dining Room Hotel Telaga Golf Sawangan. Pada Gala Dinner ini, dilakukan talkshow menarik yang membahas tentang internship kedokteran gigi, issue yang sedang hangat-hangatnya dibahas di kedokteran gigi. Acara talkshow ini dimoderatori oleh Dekan FKG UPDM(B), .

Diakhir acara diumumkan beberapa penghargaan, antara lain sebagai berikut :

Pemenang Lomba Operculum

1458466673766

Lomba Media Penyuluhan 2D

Juara 1 : Maya Masita dan Dewi Ayu (Universitas Hasanuddin)

Juara 2 : Dewi Ayu dan Dewi Qalbiyani (Universitas Hasanuddin)

Juara 3 : Desyani Shalihah dan Wafa Sahilah (Universitas Padjajaran)

Lomba Media Penyuluhan 3D

Juara 1 : Rahmania KF, Nisrina Q, dan Gisha L (Universitas Padjajaran)

Lomba Video Penyuluhan

Juara 1 : Alana Aluditasari dan Amanda Andika (Universitas Brawijaya)

Juara 2 : Dedy Saputra dan Iswatun Hasanah (Universitas Lambung Mangkurat)

Juara 3 : Maman Nur Rahmat dan Fajar Sakti (Universitas Muslim Indonesia)

 

Mahasiswa Berprestasi PSMKGI 2016 :

mapres 1

Nafisa Diniwati (Universitas Padjajaran)

 

Staff Terbaik Komisi dan Biro PSMKGI :

staff terbaik

Komisi A : Citra Veoni F (Universitas Jenderal Soedirman)

Komisi B : Nurrachma Hakim (Universitas Indonesia)

Komisi C : Dhira Pratiwi (Universitas Andalas)

Komisi D : Uky Damayanti (Universitas Muslim Indonesia)

Komisi E : Enggardini N. Hakim (Universitas Gadjah Mada)

Komisi F : Muchamad Nur Ramadhani (Universitas Padjajaran)

Biro Litbang : Dedeh Pitriani (Universitas Jenderal Soedirman)

Biro Ekuin : Kertamaya Sundawan (Universitas Jenderal Achmad Yani)

 

Universitas dengan Pengenalan PSMKGI terfavorit :

uht

Universitas Hang Tuah, Surabaya

 

1456649084337Demikianlah rangkaian acara Pramunas PSMKGI XIV. Semoga segala tujuan yang telah tercapai dalam acara ini dapat diteruskan untuk sisa periode selanjutnya. Segala koreksi dan evaluasi serta rekomendasi saat pramunas hendaknya dapat menjadi sebuah pecutan semangat untuk menjadikan PSMKGI lebih baik. Penghargaan-penghargaan yang diberikan oleh PSMKGI semata-mata bukanlah hanya sebagai ajang pembagian throphy, namun dapat menjadi motivasi bagi pengurus lainnya untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam berkontribusi bagi PSMKGI dan bagi Indonesia. Terimakasih kepada panitia tuan rumah, FKG Universitas Prof. Dr. Moestopo telah bersedia mengadakan agenda PSMKGI dengan sukses. Semoga PSMKGI bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi kedepannya. Viva PSMKGI !!

 

Dokumentasi Kegiatan :

rapat 3 rapat 7 rapat 6 rapat 5

INTERNSIP KEDOKTERAN GIGI INDONESIA

INTERNSIP

Masa penuh kemudahan “setelah lulus bisa langsung praktek” agaknya akan tinggal kenangan bagi dokter gigi baru. Kondisi yang sempat dinikmati ketika Program Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) tidak diwajibkan lagi, terhenti saat dokter gigi baru wajib mengikuti internsip setelah lulus dari uji kompetensi. Yang dimaksud dengan internsip adalah pemahiran dan pemandirian dokter atau dokter gigi yang merupakan bagian dari program penempatan wajib sementara, paling lama 1 (satu) tahun.

Program internsip diselenggarakan secara nasional bersama oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan, asosiasi institusi pendidikan kedokteran, asosiasi rumah sakit pendidikan, Organisasi Profesi, dan konsil kedokteran Indonesia.

Kedepan, lulus uji kompetensi saja tidak akan cukup sebagai syarat bisa praktek mandiri karena dokter gigi lulusan baru akan diwajibkan mengikuti internsip selama satu tahun di rumah sakit atau Puskesmas yang ditunjuk, jika mekanisme internsip KG ini sama seperti mekanisme internsip yang dilaksanakan dalam pendidikan kedokteran umum. Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan, termasuk di dalamnya adalah program internsip. Dengan adanya program internsip, setelah mendapat Sertifikat Kompetensi, seorang dokter akan mendapat Surat Tanda Registrasi (STR) sementara yang hanya dapat dipergunakan untuk membuat Surat Izin Praktek (SIP) di tempat internsip saja. STR yang bersifat tetap untuk pengajuan Surat Izin Praktek (SIP), baru akan diperoleh setelah seorang dokter menyelesaikan program internsip.

Tetapi bagaimana bentuk internsip di bidang kedokteran gigi? Apakah dengan penempatan ke daerah terpencil dengan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai dapat mengakomodasi kerja seorang dokter gigi internsip menjadi optimal? Melalui program internsip, pemerintah ingin memastikan bahwa dokter atau dokter gigi yang dihasilkan memiliki kompetensi yang sesuai standar, profesional serta mandiri, sedangkan selama ini dokter gigi selama masa pendidikan, baik akademik maupun profesi, sudah dirasa cukup memenuhi standar, professional serta mandiri karena terjun langsung merawat pasien.

Internsip umumnya diadakan untuk dokter yang telah lulus uji komptensi, agar dapat melakukan praktik difasilitas dan daerah yang membutuhkan, tetapi jika seorang dokter gigi ditempatkan ditempat terpencil dengan fasilitas yang tidak memadai, hal ini justru akan menimbulkan berbagai permasalahan baru.

DASAR HUKUM INTERNSIP

Terdapat beberapa dasar hukum yang melatarbelakangi diadakannya internsip pada pendidikan kedokteran gigi. Pertama, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran Pasal 7 Ayat (7): Program profesi dokter dan dokter gigi dilanjutkan dengan Program Internsip, penjelasan pasal 7 ayat (7): Internsip adalah pemahiran dan pemandirian dokter yang merupakan bagian dari Program penempatan wajib sementara paling lama 1 (satu) tahun. Internsip diharapkan akan menambah keterampilan dan menambah kesempurnaan dari kompetensi seorang dokter dalam menjalankan profesinya kelak.

Berdasarkan Permenkes nomor 229/MENKES/PER/II/2010 Pasal 38 ayat 1 dan 2: (1) Mahasiswa yang telah lulus dan telah mengangkat sumpah sebagai Dokter atau Dokter Gigi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) harus mengikuti program internsip. (2) Penempatan wajib sementara pada program internsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperhitungkan sebagai masa kerja. Dasar hukum Permenkes tersebut adalah UU 20 / 2003 tentang SISDIKNAS, UU 29 / 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU 36 / 2009 tentang Kesehatan, UU 44 / 2009 tentang Rumah Sakit.

INTERNSIP KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI

Berdasarkan UU Pendidikan Kedokteran tahun 2013 yang menyebutkan bahwa dokter dan dokter gigi harus menempuh internsip sebagai lanjutan dari program profesi, berarti dalam pasal tersebut terdapat sebuah kesetaraan antara dokter dengan dokter gigi karena harus melaksanakan internsip setelah lulus uji kompetensi. Kesetaraan yang dimaksud dalam hal ini bias, apakah dalam arti dokter gigi akan diakui sama sebagai dokter yang dapat melakukan praktik terhadap pasien secara umum atau mekanisme dari internsip yang dimaksud dalam pasal tersebut haruslah sama. Tentu, praktik dokter umum dan dokter gigi harus sesuai dengan kompetensinya yang dicapai dalam proses akademik dan profesi.

 

Namun apakah mekanisme internsip kedokteran gigi akan sama dengan mekanisme internsip yang dilakukan oleh sejawat dari kedokteran umum? Mari kita bandingkan alur pendidikan kedokteran umum dan kedokteran gigi saat ini.

f1

Gambar 1. Alur Pendidikan dan Internsip Kedokteran Umum

Alur pendidikan kedokteran umum dimulai dengan pendidikan akademik selama 3,5 tahun, dilanjutkan dengan program profesi selama 2 tahun. Setelah program tersebut selesai, dilakukan uji kompetensi di wilayah akademiknya. Dokter yang telah lulus uji kompetensi ditandai dengan kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR) Sementara. Dokter tersebut hanya boleh praktik di tempat praktik internsip saja selama 1 tahun atau hingga requirement yang tercantum dalam pedoman internsip selesai dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk memantapkan kompetensi dokter umum yang dinilai sebagai poin. Gaji yang dihasilkan oleh Dokter Muda ini dahulu sekitar Rp 1.500.000 dan sekarang sekitar Rp 2.500.000. Apabila requirement sudah selesai, maka proses internsip tersebut telah selesai dilaksanakan dan akan menjadi tanggung jawab dari Kementerian Kesehatan untuk pengangkatan dokter tersebut menjadi dokter umum yang sesungguhnya dan memiliki STR penuh.

f2

Gambar 2. Alur Pendidikan Kedokteran Gigi saat ini

Kita dapat mencermati alur pendidikan Kedokteran Gigi saat ini. Dimulai dari pendidikan akademik selama 4 tahun, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan profesi dengan sistem requirement atau dikenal dengan inhaus-training dengan estimasi waktu 2 tahun. Sistem pendidikan profesi kedokteran gigi menempatkan mahasiswa profesi sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGM-P) secara utuh namun berada dalam supervisi dan tanggung jawab institusi pendidikan. Mahasiswa profesi bertugas melakukan perawatan berdasarkan requirement yang telah ditentukan. Perawatan tersebut meliputi pemeriksaan subyektif, pemeriksaan obyektif, pemeriksaan penunjang, merencanakan perawatan, hingga melakukan perawatan dan mengevaluasi perawatan tersebut secara mandiri namun masih dalam pengawasan instruktur klinik atau supervisi. Mahasiswa profesi tersebut dapat dibuktikan lulus setelah mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan gelar dokter gigi. Surat Tanda Registrasi (STR) penuh dapat langsung diurus ke Konsil Kedokteran Indonesia setelah dokter gigi tersebut dinyatakan lulus uji kompetensi.

Pendidikan profesi dan uji kompetensi dalam pendidikan kedokteran gigi, dengan segala proses didalamnya, telah dapat dipandang sebagai proses penyempurnaan kompetensi kedokteran gigi, serta telah memenuhi konsep pemahiran dan pemandirian yang diawasi oleh dokter gigi/dosen sesuai dengan spesialisasinya selama sekitar 2 tahun.

INTERNSIP KEDOKTERAN GIGI

Internsip adalah program berkelanjutan yang, mau tidak mau, harus dilalui seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan akademik dan profesi dokter gigi, sebagai syarat untuk mendapatkan izin bepraktek. Hal ini telah diamanahkan dalam Undang-undang Pendidikan Kedokteran.

Internsip menjadi suatu wadah yang potensial untuk menambahkan nilai-nilai yang dibutuhkan para dokter gigi agar lebih mandiri dan percaya diri dalam terjun langsung di tengah-tengah masyarakat.

Aspek-aspek akademik, seperti aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang dibutuhkan untuk menjadi seorang dokter gigi yang berkompeten telah ditanamkan dalam pendidikan akademik maupun profesi. Kompetensi dokter gigi yang telah melalui ujian kompetensi pun, seharusnya tidak perlu dipertanyakan kembali. Jika lulus ujian kompetensi, maka sudah pasti kompeten dokter gigi tersebut. Lalu, apakah kemudian internsip kedokteran gigi diperlukan?

Mahkamah Konstitusi dalam penjelasan yang bersamaan dengan amar putusan penolakan permohonan Uji UU Pendidikan Kedokteran oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) pada awal Desember 2015, menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kemahiran dan kemandirian pendidikan kedokteran, maka memang perlu dilaksanakan program internsip yang merupakan bagian dari program penempatan wajib sementara. Program penempatan wajib sementara bertujuan untuk menjamin pemerataan lulusan terdistribusi ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut telah bersesuaian dengan amanat yang ditentukan dalam Pasal 31 ayat (5) UUD 1945. Seperti yang telah kita pahami bersama, suatu peraturan perundang-undangan hanya dapat diuji kembali jika bertentangan dengan UUD 1945.

Berkenan atau tidak, nampaknya internsip dalam pendidikan kedokteran gigi sudah menjadi suatu hal yang pasti. Lantas, komponen apa lagi yang bisa menjadi nilai tambah dalam program internsip? Menurut hemat kami, terdapat beberapa nilai yang kemudian juga menjadi solusi untuk permasalahan kedokteran gigi di Indonesia saat ini, salah satu diantaranya adalah tidak meratanya dokter gigi di Indonesia.

 

Pada kajian bertajuk “Potret Ketersediaan dan Kebutuhan Tenaga Dokter Gigi” oleh Research and Development Team HPEQ pada tahun 2011, disebutkan bahwa 70% dokter gigi umum Indonesia ternyata bekerja di Pulau Jawa, baru sisanya 30% tersebar di berbagai wilayah lain Indonesia. Bahkan untuk dokter gigi spesialis kondisinya lebih parah lagi karena hanya ada 7% dokter gigi spesialis yang bekerja di luar Pulau Jawa, sisanya sebanyak 93% berdesakan di Pulau Jawa. Pada tahun 2013, berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), sebagian besar dokter gigi berada di daerah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan DI Yogyakarta. Data terakhir dari KKI pada tahun 2015 menyebutkan terdapat 26.908 dokter gigi dan 2.728 dokter gigi spesialis teregistrasi yang tersebar di seluruh Indonesia. 85% dokter gigi dan 93% dokter gigi spesialis teregistrasi berada di wilayah Indonesia bagian barat, dan mayoritas terkonsentrasi pada pulau Jawa. Kondisi distribusi dokter gigi dan dokter spesialis yang tidak merata ini akan menghambat upaya mengoptimalkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

 

Dengan menempatkan para dokter gigi yang telah lulus ujian kompetensi di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali, berarti permasalahan pemerataan dokter gigi Indonesia dapat teratasi. Hal ini tentu juga harus didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Kesejahteraan para dokter gigi ini pun harus menjadi prioritas utama.

 

Solusi potensial lain yang dapat dikembangkan melalui internsip kedokteran gigi adalah peran aktif dokter gigi dalam merencanakan dan mengimplementasikan program pelayanan kesehatan yang bersifat preventif, promotif, serta kuratif dengan berlandaskan penelitian epidemiologi atau data-data statistik dari suatu wilayah. Hal ini guna menjadi solusi dari angka kejadian penyakit kesehatan gigi dan mulut yang cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, pada tahun 2007 indeks DMF-T Indonesia sebesar 4,85, kemudian pada tahun 2013 sebesar 4,6. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Kita mengetahui bahwa jumlah institusi pendidikan kedokteran gigi, baik yang sudah menjadi fakultas ataupun yang masih berupa program pendidikan, semakin bertambah dari masa ke masa.  Saat ini, berdasarkan data yang dimiliki Konsil Kedokteran Gigi, terdapat 30 institusi pendidikan kedokteran gigi. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran lulusan dokter gigi Indonesia masih belum cukup efektif dan efisien dalam menanggulangi permasalahan-permasalahan terkait kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

ANALISA INTERNSIP KEDOKTERAN GIGI

Analisis SWOT di bawah ini merupakan analisis teknis-konseptual dari rencana internsip kedokteran gigi yang dapat menjadi pertimbangan sikap terhadap rencana internsip ini.

Strength. Internsip merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada bangsa dan membantu pemerintah untuk pemerataan dokter gigi di Indonesia, agar dokter-dokter yang telah lulus tidak banyak berdomisili di kota besar. Tidak hanya itu saja, internsip juga membantu dokter gigi dalam mencari pengalaman menangani pasien secara langsung dengan kondisi pasien yang berbeda-beda sesuai epidemologinya.

Weakness. Dokter internsip akan rentan terhadap penyakit karena tugasnya yang berhadapan dengan orang sakit, dan mereka bekerja tanpa dilengkapi asuransi kesehatan. Mekanisme internsip yang kurang jelas juga menyebabkan dokter internsip merasa bingung untuk menjalankannya. Kemudian, kemungkinan terjadinya back-log  atau penumpukan peserta internsip KG.

Opportunity. Memberikan kesempatan kepada dokter gigi yang baru lulus untuk memahirkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, sehingga didapatkan pematangan untuk dokter gigi dalam melanjutkan kompetensi selanjutnya.

Treath. Kesejahteraan dokter yang kurang baik, yang notabene tidak sesuai dengan biaya hidup di daerah pelosok yang berbeda-beda.

Berdasarkan analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa Internsip KG sangat mungkin untuk dilakukan, namun haruslah didahului dengan persiapan yang matang. Persiapan tersebut mencakup teknis penyebaran dokter gigi serta wilayah penyebaran, sarana dan prasarana KG di daerah Internsip, kesehatan dan keselamatan kerja serta kesejahteraan dokter gigi internsip.

INTERNSIP KEDOKTERAN GIGI IDEAL

Berdasarkan fakta-fakta dan analisis yang kami lakukan, terdapat beberapa rekomendasi yang kemudian kami ajukan sebagai model ideal dari Internsip KG. Internsip KG adalah program pendidikan lanjutan yang wajib dijalani dokter gigi yang telah menyelesaikan pendidikan profesi, yang berfokus pada upaya pemerataan dan pengabdian masyarakat selama 6 bulan dan dianggap sebagai wajib kerja sementara setelah lulus uji kompetensi dan mendapat STR sementara. Artinya, dokter gigi tersebut dapat mengajukan SIP untuk melakukan praktik dimana saja sesuai dengan SIP namun di 6 bulan awal setelah dinyatakan lulus uji kompetensi, dokter gigi tersebut harus menjalankan praktik wajib kerja sementara tersebut sebagai implementasi program internsip KG, baru kemudian mendapatkan STR penuh. Dokter gigi akan dikelompokkan dan ditempatkan di seluruh pelosok Indonesia sesuai dengan wilayah regional.

 

Internsip KG yang kami rekomendasikan adalah program yang berlandaskan pengabdian masyarakat dan upaya pemerataan tenaga kesehatan, dalam hal ini dokter gigi. Poin pemerataan dapat diimplementasikan dengan menempatkan dokter gigi di seluruh Indonesia tanpa terkecuali (secara regional) dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan dokter gigi dan kepadatan distribusi dokter gigi dalam suatu wilayah.

Poin pengabdian masyarakat diimplementasikan dengan tugas dokter gigi tersebut di daerah penempatan, antara lain : melayani masyarakat yang membutuhkan perawatan gigi dan mulut, memberikan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi, lalu merencanakan dan melaksanakan program pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, berdasarkan penelitian epidemiologis atau data statistik dari daerah dimana dia ditempatkan. Penelitian epidemiologi dapat memberikan gambaran bagi dokter gigi internsip mengenai permasalahan yang dimiliki masayarakat, kemudian dapat digunakan sebagai modal untuk merencanakan intervensi yang tepat terhadap faktor-faktor resiko yang ada.

Internsip KG yang kami rekomendasikan bersifat time-based dan bukan requirement-based. Hal ini bermakna bahwa internsip KG dinilai telah selesai ketika dokter gigi yang menjalani program internsip telah melalui masa 6 bulan yang ditentukan, bukan dari koleksi kasus atau perawatan yang telah dilakukan. Masa 6 bulan kami nilai cukup relevan untuk program internsip KG, selain menghindari back-log atau penumpukan antrian peserta internsip, juga cukup untuk proses pemahiran dari dokter gigi tersebut. Selama dalam masa internsip, dokter gigi wajib mengisi absensi harian, melakukan pengisian boring kasus, diskusi kasus, dan presentasi kasus, seperti halnya yang dilakukan peserta internsip kedokteran umum. Dokter gigi internsip berada dalam pengawasan dokter gigi Puskesmas.

Internsip KG haruslah didukung dengan sarana dan prasarana praktik kedokteran gigi yang memadai sesuai dengan standarnya, serta menjamin kesehatan dan keselamatan kerja, dan kesejahteraan dokter gigi yang ditempatkan di pelosok Indonesia. Internsip KG tidak boleh dipandang sebagai upaya mengeksploitasi dokter gigi yang baru saja lulus dengan ditempatkan di pelosok-pelosok Indonesia, namun secara positif dimaknai sebagai proses yang mampu memberikan kebermanfaatan, baik kepada dokter gigi, dan lebih luas lagi, untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Komisi F Kajian Strategis dan Advokasi

Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia

UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN

GAMBAR RILIS UU DIKDOK

UU No.20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran atau lebih sering disebut sebagai Undang-undang Pendidikan Kedokteran (UU Pendidikan Kedokteran) disetujui oleh DPR RI dan Pemerintah untuk ditetapkan sebagai Undang-undang pada sidang paripurna DPR RI 11 Juli 2013. Penetapan UU Pendidikan Kedokteran baru disepakati setelah perjalanan panjang pembahasan selama kurun waktu lebih dari 2 tahun. Berdasarkan UU tersebut, pendidikan dokter gigi termasuk dalam pendidikan kedokteran yang terdiri atas pendidikan doker dan pendidikan dokter gigi.

Meski telah terdapat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 14 tentang Guru dan Dosen, serta UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, namun pendidikan kedokteran di pandang perlu untuk diatur dalam UU tersendiri berdasarkan kekhasan pendidikan kedokteran. Pada bagian umum penjelasan Pendidikan Kedokteran dinyatakan bahwa berbagaI peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sistem Pendidikan Nasional belum mengatur secara spesifik dan komprehensif mengenai penyelenggaraan Pendidikan Kedokteran.

Kekhasan pendidikan kedokteran terbangun dari sejarah pendidikan kedokteran maupun pelaksana profesinya yang selama ini telah berjalan baik secara universal maupun yang berlangsung di Indonesia. Hal yang khusus pada pendidikan kedokteran antara lain pelaksanaannya yang mencakup interaksi antara 3 unsur utama yaitu institusi pendidikan, rumah sakit pendidikan, dan organisasi keprofesian. Demikian pula struktur profesinya terdiri atas dokter atau dokter gigi dan dokter atau dokter gigi spesialis – sub spesialis, yang tercemin pula pada struktur pendidikannya. Selain itu terdapat spesifitas profesi kedokteran sebagai tenaga stretegis.

Tujuan dari UU Pendidikan Kedokteran, secara umum dapat dijabarkan menjadi tiga hal. Yang pertama, adalah upaya mengintegrasikan peran pendidikan atau akademik dan layanan kesehatan atau profesi, dimana secara operasional dikelola oleh kementrian dibawah sektor pendidikan dan kesehatan. Kedua, mengatasi berbagai problem dalam rangka menjaga mutu, yang terkait dengan proses seleksi, proses pembelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana serta alat-alat laboratorium, dosen, tenaga medik dan masalah pendanaan pendidikan kedokteran. Terakhir, UU Pendidikan Kedokteran bertujuan memberikan kepastian hukum, disamping undang-undang yang sudah ada yaitu Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Hal-hal yang diatur dalam UU Pendidikan Kedokteran yang terdiri atas 8 Bab yang berisi 64 pasal disertai penjelasannya meliputi; ketentuan umum yang berisi pengertian, azas dan tujuan pendidikan kedokteran. Penyelenggara dan pendidikan kedokteran yang mencakup pembentukan, penyelenggara pendidikan kedokteran, penyelenggara pendidikan kedokteran di rumah sakit, rumah sakit pendidikan dan wahana pendidikan kedokteran, pendidikan akademis dan profesi, sumber daya manusia, standar nasional pendidikan kedokteran, kurikulum, mahasiswa, beasiswa dan bantuan biaya pendidikan, uji kompetensi, kerjasama FK atau FKG dengan rumah sakit pendidikan dan wahana pendidikan kedokteran, penelitian, penjaminan mutu. Pendanaan dan standar satuan biaya pendidikan kedokteran yang mencakup pendanaan pendidikan kesehatan, dan standar satuan biaya pendidikan kedokteran. Pemerintah dan pemerintah daerah yang mencakup dukungan pemerintah, dan dukungan pemerintah daerah, peran serta masyarakat, sanksi administratif, ketentuan peralihan.

Meninjau pasal-pasal yang diatur dalam UU Pendidikan Kedokteran, terlihat bahwa undang-undang tersebut berisikan isu-isu pokok yang kemudian dapat menimbulkan implikasi-implikasi kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri ataupun Peraturan Pemerintah. Isu-isu pokok tersebut, antara lain; program Dokter Layanan Primer, integrasi akademik-profesi, integrasi FK-RSP (termasuk wahana pendidikan kedokteran), pembiayaan pendidikan, seleksi mahasiswa, kuota mahasiswa, uji kompetensi, internsip (sebagai kelanjutan setelah program profesi dokter), sistem penjaminan mutu, Standar Nasional Pendidikan Kedokteran, dan afirmasi (untuk mendukung pemerataan distribusi dokter). Isu-isu pokok tersebut diatas sangat erat kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan kedokteran gigi di Indonesia. Beberapa isu pokok yang masih dalam proses perumusan derivat regulasinya, antara lain program internsip untuk pendidikan kedokteran gigi dan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran. Kedua isu pokok ini akan dibahas lebih lanjut dalam kajian yang lebih khusus oleh Komisi F Kajian Strategis dan Advokasi PSMKGI.

UU Pendidikan Kedokteran memiliki tujuan yang baik dan akan memberikan hasil yang positif ketika derivat regulasi (Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah) memuat prosedur teknis yang ideal dan tidak merugikan semua pihak, implementasi peraturan perundangan yang baik, dan kontribusi aktif dari seluruh pihak yang terlibat, termasuk didalamnya peran aktif dari mahasiswa kedokteran gigi Indonesia untuk selalu mengembangkan wawasan dan kritis terhadap perkembangan dari UU Pendidikan Kedokteran.

Komisi F Kajian Strategis dan Advokasi

Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia

The First Summit AOMKI

  

Semangat Kolaborasi! Apa Sih Maksudnya?

           Semangat kolaborasi, merupakan kata-kata yang sering didengungkan akhir-akhir ini di antara mahasiswa-mahasiswa kesehatan. Mengapa mahasiswa-mahasiswa kesehatan perlu berkolaborasi? Apakah berkolaborasi merupakan hal yang penting?

          Health Professional Education Quality (HPEQ) merupakan proyek Dikti yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas penyedia jasa kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat, dan bidan). Sebelumnya, mahasiswa tidak diikutsertakan di dalam proyek dikti tersebut. Pada tahun 2010, beberapa ormawa kesehatan datang ke Dikti dan meminta diikutsertakan dalam proyek HPEQ sehingga munculah yang disebut dengan HPEQ Students.

       1449077714089Pada tahun 2014, proyek HPEQ selesai lalu dibentuklah AOMKI. AOMKI adalah Aliansi Organisasi Mahasiswa Kesehatan Indonesia. Jadi, AOMKI merupakan kelanjutan dari HPEQ Students dan didukung penuh Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi dan Indonesian Youth Health Professional Society (IYHPS). Anggota AOMKI terdiri dari 9 ormawa kesehatan yaitu, ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia), ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa kedokteran Indonesia), PSMKGI (Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia) , ISMKMI (Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia), AMSA (Asian Medical Students Association), ILMIKI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), CIMSA (Center For Indonesian Medical Students Activities), ILMAGI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia), dan IKAMABI (Ikatan Mahasiswa Kebidanan Indonesia).

           Tujuan dari AOMKI adalah  (Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis) kesehatan, menjadi wadah pergerakan mahasiswa kesehatan yang berpengaruh dalam proses usaha peningkatan derajat kesehatan Indonesia, dan berpartisipasi aktif dalam membangun sistem pendidikan kesehatan Indonesia yang bersifat kolaboratif.

           Fungsi AOMKI adalah sebagai wadah kolaborasi untuk semua mahasiswa kesehatan di bidang pendidikan dan kesehatan yang harapannya dengan berkolaborasi dampaknya bisa langsung terkena ke masyarakat. “Selain itu, diharapkan AOMKI dapat dijadikan sebagai wadah pembiasaan mahasiswa kesehatan untuk bekerja sama dengan mahasiswa kesehatan lainnya sehingga mahasiswa kesehatan tersebut dapat mengetahui ranah dan batasannya masing-masing sehingga ketika bekerja di masa depan, tenaga kesehatan bisa bekerja sama dengan baik dan optimal,” Kata Hindun Risni, Koordinator AOMKI

         “Latar belakang diperlukannya kolaborasi ini adalah untuk menghindari medical error yang disebabkan karena faktor manusia. Medical error dapat merugikan pasien secara fisik, materil, dan psikologis dan merugikan tenaga kesehatan. Dengan terlaksananya kolaborasi di bidang kesehatannya, dampaknya dapat terasa langsung pada pelayanan kesehatan, yaitu berupa waktu rawat pasien lebih singkat dan dana untuk pelayanan kesehatan juga lebih hemat sehingga pelayanan kesehatan meningkat yang dapat menyebabkan tingginya derajat kesehatan Indonesia,” Lanjut Hindun.

        14490777317211449077723620

Pada tanggal 31 Oktober-1 November 2015, dilaksanakan The First Summit AOMKI di Bandung. The First Summit AOMKI ini merupakan lanjutan dari Pre-Summit AOMKI yang dilaksanakan tanggal 9-10 Mei 2015. Tujuan The First Summit AOMKI adalah membangun penguatan internal, menjalin silaturahmi anggota dan pengurus AOMKI, dan menyamakan presepsi antar anggota dan pengurus AOMKI. Kegiatan The First Summit AOMKI berupa rapat kerja AOMKI, rapat kerja AOMKI-IYHPS, seminar kolaborasi, dan capacity building. Hasil dari The First Summit AOMKI ini adalah Naskah Akademik, SOP, Program Kerja, BOT, dan Executive Board yang sudah disahkan, alur koordinasi dengan Bimkes, kerja sama dengan IYHPS. Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan ormawa kesehatan, perwakilan ormawa kesehatan, executive board, IYHPS, perwakilan Bimkes, perwakilan ormawa kesehatan lain seperti, kedokteran hewan dan fisioterapi, alumni ormawa, dan calon BOT AOMKI (dewan penasihat AOMKI). Sehingga dengan hasil-hasil yang telah dipaparkan, diharapkan AOMKI dapat menjadi wadah kolaborasi bagi seluruh mahasiswa kesehatan Indonesia agar dapat mencapai Indonesia Sehat. Viva PSMKGI! Semangat Kolaborasi!

DELAVIDA

7Tidak terasa kini Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana telah memasuki usianya yang ke 2. Pada perayaan ulang tahun Delavida yang ke 2 ini, PSPDG FK Udayana mengusung tema “Together We Will Find Happiness” dimana tema tersebut terinspirasi dari kisah PSPDG itu sendiri, yang tidak mungkin berdiri sampai seperti sekarang ini tanpa kontribusi dari seluruh keluarga PSPDG dalam membangun Program Studi ini. Meski tergolong Program Studi baru di FK Udayana, namun PSPDG sudah mampu mencetak mahasiswa-mahasiswanya yang berprestasi di berbagai bidang.

2Perayaan ulang tahun Delavida ini terdiri dari 3 rangkaian kegiatan. Rangkaian kegiatan yang pertama kali dilaksanakan adalah kegiatan bakti sosial di Panti Asuha Salam, yang terlaksana pada hari Sabtu, 24 Oktober 2015. Selanjutnya adalah rangkaian kegiatan lomba – lomba intern menjelang malam puncak perayaan Delavida. Adapun 4 cabang lomba – lomba intern tersebut yakni futsal, basket, bulu tangkis, dan voli. Dalam setiap cabang lomba, mahasiswa dari seluruh angkatan PSPDG FK Udayana turut dilibatkan, baik sebagai peserta lomba, maupun sebagai supporter untuk menyemangati teman – temannya yang sedang bertanding memperebutkan gelar juara pada masing – masing cabang lomba.

3Rangkaian kegaiatan terakhir dan utama yakni malam puncak perayaan yang jatuh pada hari Sabtu, 21 November 2015 berlangsung dengan sangat lancar dan meriah. Lokasiyang dipilih untuk menjadi tempat pelaksanaan acara tidak jauh dari kawasan kampus FK Udayana itu sendiri, yakni di Auditorium Lantai 4 Gedung Agrokompleks Kampus Sudirman Udayana. Acara di mulai pukul 18.00 WITA segera setelah seluruh tamu undangan memasuki ruangan. Selanjutnya acara di buka dengan sambutan – sambutan, dan dilanjutkan dengan penampilan Tari Kontemporer yang di bawakan oleh salah satu mahasiswa PSPDG angkatan 2013 yang telah mengukir pretasi yang tidak sedikit dalam kesenian tari. Acara juga dimeriahkan dengan suara – suara merdu dari Kepala Program Studi dan para dosen, yang bersedia menyumbangkan suaranya untuk meramaikan malam puncak dari rangkaian Delavida ini. Di tengah – tengah acara sewaktu jamuan makan malam, juga diadakan pemutaran video ucapan – ucapan yang disampaikan oleh ketua – ketua lembaga dan ketua – ketua himpunan mahasiswa dari Program Studi lain yang masih merupakan bagian dari keluarga besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

3Dalam kegiatan malam puncak ini, juga diadakan penganugrahan penghargaan yang tidak hanya diberikan kepada mahasiswa namun juga diberikan kepada dosen – dosen pengajar di PSPDG FK Udayana. “Pada perayaan malam puncak ini, kami ingin menunjukkan apresiasi kami terhadap dosen – dosen yang sudah membimbing kami dalam kegiatan perkuliahan, karenanya kami memberikan awards dengan berbagai kategori untuk diberikan pada dosen – dosen yang terpilih”, ujar Rai selaku Ketua Panitia Pelaksana kegiatan Delavida. Tidak hanya itu, acara malam puncak Delavida juga dimeriahkan oleh penampilan dari teater ternama di Bali yakni Teater Kini Berseri dan juga dimeriahkan oleh suara merdu dari salah satu jebolan IMB yaitu Adhipa.

Demikianlah pelaksanaan rangkaian kegiatan Delavida. Tentunya kesuksesan rangkaian kegiatan Delavida kali ini, tidak lepas dari usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh Panitia Pelaksana Kegiatan dengan dibantu oleh pihak – pihak terkait. Semoga perayaan Delavida di tahun – tahun berikutnya bisa mengalami peningkatan dalam pelaksanaannya yang juga diiringi oleh peningkatan prestasi seluruh mahasiswa PSPDG FK Udayana ke arah yang lebih baik.

6

 

4

5

1

BAKSOSNAS PSMKGI 2015

baksosnas 1

Bakti Sosial Nasional Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (Baksosnas PSMKGI) tahun 2015 dengan tema “BUNGAS” (Baimbai Maulah Langkar Gigi Anak Seribu Sungai) dilaksanakan di Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) sebagai tuan rumah, dengan rangkaian acara yang terhitung sejak tanggal 25 Juli 2015 hingga tanggal 28 Juli 2015. Baksosnas PSMKGI tahun 2015 ini diikuti oleh 94 orang delegasi yang terdiri dari 31 orang mahasiswa klinik dan 63 orang mahasiswa preklinik dari 23 institusi kedokteran gigi se-Indonesia yaitu UNAND, UI, USAKTI, UNIV DR.MOESTOPO BERAGAMA, UNAIR, UB, UHT, UNIMUS, UMS, UNISSULA, UNSOED, IIK, UNEJ, UNPAD, UNJANI, UNIV KRISTEN MARANATHA, UGM, UMY, UNMAS, UNMUL, UNHAS, UMI, UNSRAT, dan ditambah 77 delegasi mahasiswa klinik dari Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat.

Bakti Sosial Nasional PSMKGI 2015 ini dilaksanakan di UNLAM berdasarkan keputusan di Rapat Kerja Nasional PSMKGI di Universitas Padjajaran Bandung pada bulan Februari tahun 2015. Persiapan dimulai dari pendaftaran open recruitment di awal bulan Maret yang diikuti oleh 185 mahasiswa/i PSKG FK UNLAM dari angkatan 2011-2014, dilanjutkan dengan seleksi kepanitiaan sejak tanggal 15-18 Maret 2015 oleh kepanitiaan inti yang telah dibentuk sebelumnya oleh Ketua pelaksana yang telah dipilih oleh  pembina yang bekerjasama dengan para anggota Himpunan Mahasiswa Kedokteran Gigi (HimaKG) UNLAM, selanjutnya terpilih 127 panitia selektif dan 9 drg penanggung jawab sehingga jumlah total kepanitiaan menjadi 154 panitia untuk 12 divisi yaitu divisi Inti, divisi acara, divisi dana dan usaha, divisi hubungan masyarakat, divisi kesekertariatan, divisi dokumentasi dan IT, divisi transportasi, divisi konsumsi, divisi akomodasi, divisi perlengkapan, divisi liason organizer, dan divisi dekorasi.

baksosnas 2

Dalam rangka menyambut kegiatan Bakti Sosial Nasional PSMKGI 2015 kali ini, institusi lain yang menjadi anggota Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia periode 2014-2016 menyelenggarakan kegiatan Tribute To Baksosnas. Kegiatan ini bertujuan agar makna bakti sosial ini benar – benar terlaksana secara nasional, dalam arti tidak hanya masyarakat Banjarmasin yang merasakan manfaat dari kegiatan Baksosnas ini melainkan masyarakat – masyarakat di daerah lain juga dapat merasakan manfaatnya.

Rangkaian acara kegiatan Bakti Sosial Nasional PSMKGI 2015 yang dimulai pada tanggal 25 Juli 2015 ini diawali dengan acara pembukaan di gedung teater Fakultas Kedokteran UNLAM kemudian dilanjutkan dengan malam ramah tamah bersama Gubernur Kalimanatan Selatan di Mahligai Pancasila yang merupakan kediaman bapak Gubernur dan diakhiri dengan forum koas nasional (Forkasnas) yang kembali bertempat digedung teater Fakultas Kedokteran UNLAM.

Pada hari kedua yaitu tanggal 26 Juli 2015 dibagi dalam dua kegiatan yaitu pelatihan ketangkasan kemiliteran bagi para mahasiswa pre klinik yang dilaksanakan di Resimen Induk Daerah Militer (RINDAM) dan bagi para mahasiswa klinik melanjutkan kegiatan Forkasnas di kampus FK UNLAM, kemudian pada siang hari seluruh delegasi baik mahasiswa klinik maupun pre klinik kembali berkumpul untuk menghadiri acara silaturahmi bersama pemerintahan kabupaten Banjar di halaman kantor Sekertaris Daerah kabupaten Banjar dan dilanjutkan dengan acara Seminar Nasional yang terlaksana di Ballroom hotel Amaris kota Banjarmasin.

baksosnas 3

Seminar nasional pada rangkaian acara Baksosnas PSMKGI 2015 ini diikuti oleh seluruh delegasi dan ditambah dengan para mahasiswa program studi kedokteran gigi UNLAM. Seminar nasional ini terdiri dari 3 materi, dengan pembicara drg. Isyana Erlita, Sp.KG pada materi pertama yang bertemakan “Pain Management of Conservative Dentistry” yang bertujuan agar para peserta seminar mendapat tambahan ilmu dalam bidang konservasi kedokteran gigi dan bagaimana cara menangani rasa sakit dalam perawatannya baik secara klinis maupun psikologis. Materi kedua dibawakan oleh drg. Irham Taufiqurrahman, Sp.BM yang bertemakan “Dental Emergency Proceduras”, tema ini diangkat dengan tujuan peserta seminar mendapatkan ilmu tambahan bagaimana cara dan pertolongan pertama apa saja yang akan dilakukan saat menangani pasien mengalami kejadian yang tidak diinginkan pada saat tindakan. “Environmental Management System of Hospital” menjadi tema pembicara ketiga yang dibawakan oleh Dendy Primanandi, ST yang bertujuan agar para peserta seminar mendapatkan tambahan ilmu dalam menangani limbah medis maupun nonmedis sehingga dapat mengolah limbah dengan baik dan benar serta tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitar.

Hari ketiga dalam rangkaian acara Baksosnas PSMKGI 2015 ini merupakan acara inti yang kemudian ditutup dengan acara Cultural Night sebagai wadah promosi  kebudayaan dan pariwisata kota Banjarmasin baik dalam segi dekorasi, pengisi acara dan makanan yang disuguhkan bagi para delegasi.

baksosnas 4

Kegiatan Bakti Sosial PSMKGI kali ini dilaksanakan di dua tempat berbeda yaitu di kelurahan Mantuil kota Banjarmasin yang terlaksana di halaman Masjid Noorhidayaturrahim Jl. Mantuil Permai Rt.2 No.20 Banjarmasin dan Kecamatan Aluh – Aluh Kabupaten Banjar yang terlaksana di depan Kantor Kecamatan Aluh – Aluh Jl. Inpres Rt.002 desa Aluh – Aluh Besar tepat pada tanggal 27 Juli 2015. Siswa/i SD, SMP dan masyarakat umum menjadi target dalam kegiatan baksos ini, sebelumnya pada tanggal 22 Juli 2015 seluruh panitia melakukan sosalisasi door to door untuk informasi secara langsung kepada masyarakat sekitar mengenai terkait kegiatan baksosnas ini. Kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan pada setiap tempat berupa pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gigi gratis seperti tambal gigi, pencabutan gigi yang sebelumnya dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, dan pembersihan karang gigi serta konsultasi. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan penyuluhan kesehatan gigi serta cara cuci tangan aseptik bagi anak – anak dan remaja, disamping itu bagi ibu – ibu dan karang taruna setempat melakukan aksi peduli lingkungan dengan kegiatan penanaman pohon bersama serta diajarkan mengenai pemanfaatan sampah botol plastik, pemanfaatan baju bekas dan composting oleh tim Green Ambassador Association yang merupakan duta – duta dan volunteers lingkungan hidup kota Banjarmasin.

baksosnas 5

Pendaftaran pasien pada Kegiatan Bakti Sosial baik di Mantuil maupun Aluh – aluh serentak dimulai pada pukul 08.30 – 12.00 WITA, namun pada kecamatan Aluh-Aluh hingga waktu yang telah ditentukan panitia warga masih banyak yang berminat melakukan pengobatan sehingga registrasi di Aluh – Aluh diperpanjang hingga pukul 14.00 WITA. Jumlah pasien yang terdaftar di registrasi dalam kegiatan ini kurang lebih sebanyak 1.074 orang yang terdiri dari 624 di Mantuil dan 450 di Aluh – Aluh. Dalam kegiatan Baksos ini kami juga mendapatkan dukungan dari aparat kepolisian setempat dalam pengamanan dan untuk di Aluh – Aluh  selain mendapatkan pengamanan dari pihak kepolisisan dan TNI setempat juga mendapatkan kegiatan tambahan berupa pos donor darah yang diadakan dari pihak Komando Distrik Militer (KODIM) Kabupaten Banjar. Pada setiap wilayah kegiatan Bakti Sosial ini terdiri dari 5 pos tindakan yaitu pos tindakan skrining, bedah mulut, konservasi, pedodonsia, dan peridonsia. Para mahasiswa klinik berperan sebagai operator dalam setiap pos tindakan yang diawasi oleh para dosen PSKG Unlam yang turut pula dibantu oleh para dokter gigi Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin, beberapa dokter gigi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Gusti Hasan Aman dan para dokter gigi PDGI wilayah Banjarbaru dan kabupaten Banjar, sedangkan para mahasiswa preklinik berperan sebagai asisten operator dan sebagian bertindak dalam penyuluhan. Di Aluh – Aluh dilaksanakan penyuluhan pada 4 Sekolah Dasar dan 1 SMP sedangkan di Mantuil dilaksanakan di 1 Sekolah Dasar dan 1 SMP.

baksosnas 6

Rangkaian Kegiatan Baksosnas PSMKGI yang diselenggarakan di Universitas Lambung Mangkurat ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintahan, dinas – dinas, instansi, perusahaan , dan tentu saja dari seluruh civitas akademik Universitas Lambung Mangkurat. Tercatat Gubernur Kalimantan Selatan, Walikota kota Banjarmasin, Bupati Kabupaten Banjar, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Banjarmasin, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, para aparat kepolisian, 3 sponsor besar yaitu CSR Bank Kal-Sel, PT.Unilever, dan PT.Panasea, 5 sponsor tengah yaitu bank Syariah Mbaksosnas 7andiri, Citilink, Enseval, Nonnith, Raffa Media, 34 sponsorship lainnya serta beberapa pihak sebagai donatur dilengkapi pula dengan 7 media partner yaitu RRI, Kompas, Banjar TV, Kalimantan Post, Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Radar Banjarmasin sebagai peliput dan media promosi dalam rangkaian acara Baksosnas PSMKGI 2015 ini. Untuk tindakan rujukan terdaftar Puskesmas Pekauman kota Banjarmasin sebagai rujukan pertama tindakan di Kelurahan Mantuil , Puskesmas Aluh – Aluh sebagai rujukan tindakan di Kecamatan Aluh – Aluh serta terdapat beberapa Rumah Sakit sebagai rujukan lanjutan yaitu  Rumah Sakit Ratu Zaleha kota Martapura, Rumah Sakit Anshari Saleh kota Banjarmasin, Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Gusti Hasan Aman.

Rangkaian Kegiatan Baksosnas PSMKGI 2015 ini berakhir pada tanggal 28 Juli 2015 dengan kegiatan city tour susur sungai Martapura dari siring dermaga menara pandang ke pasar terapung Lokbaintan yang berakhir di Soto Banjar Bang Amat untuk santap kuliner, kemudian para delegasi dibawa ke pasar Martapura sebagai pusat oleh – oleh khas Kalimantan Selatan untuk berbelanja sebelum kepulangan ke daerah masing – masing.

“Quo Vadis” Standardisasi Pendidikan Dokter Gigi Indonesia

Oleh: Muhammad Fahmi Alfian

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Globalisasi, suatu kata yang sangat familier dan saat ini memberikan berbagai dampak signifikan di masyarakat dunia. Globalisasi dimaknai dengan dunia yang tanpa batas, transaksi perdagangan bebas mulai dari barang hingga jasa6. Sektor jasa yang kian bebas sama artinya dengan persaingan tinggi dalam mencari kerja. Salahsatu dampak globalisasi itulah yang kemudian menyebabkan profesionalisme kian menjadi tuntutan. Profesionalisme tentu tidak dapat diperoleh secara instan namun melalui proses, salahsatunya melalui pendidikan yang berkualitas.

Tantangan Indonesia dalam menghadapi globalisasi dalam waktu dekat ini adalah ASEAN Community. Per 1 Januari 2016, seluruh negara ASEAN telah sepakat akan memasuki babak baru tersebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sebagai salahsatu implementasinya5. Transformasi tersebut tentu menimbulkan efek bak pisau bermata dua. Kondisi Indonesia yang saat ini terbesar di Asia Tenggara dan memiliki penduduk terbanyak namun dengan rasio dokter gigi yang rendah5, akan menjadi zona target yang empuk sekaligus hanya menjadi pasar semata apabila kita tidak mampu mengantisipasinya. Tantangan muncul ketika dokter gigi Indonesia memiliki kualifikasi yang tinggi dan mampu bekerja di negeri seberang, namun sebaliknya apabila kualitas lulusan rendah maka dokter gigi asing yang lebih profesional akan berpeluang bekerja di Indonesia. Oleh karena itu, perlu persiapan khusus dan peningkatan kualitas di bidang kedokteran gigi agar dapat turut bermain di pentas MEA. Salahsatu upaya persiapan terhadap arus globalisasi tersebut yakni standardisasi4.

Standardisasi merupakan salahsatu tameng paling ampuh dalam menjalani globalisasi tak terkecuali dalam sektor pendidikan dokter gigi. Salahsatu indikator penerapan standar dalam sektor pendidikan adalah akreditasi. Akreditasi berperan cukup penting karena dapat menunjukkan indikator jaminan mutu dan penyetaraan kualitas pendidikan. Akreditasi sektor pendidikan dokter gigi di Indonesia saat ini masih perlu mendapat perhatian khusus. Data yang dihimpun melalui BAN-PT per 12 April 2015 menunjukkan bahwa peringkat akreditasi dari 31 institusi Program Studi Kedokteran Gigi se-Indonesia yang memiliki kriteria sangat baik hanya sejumlah 22%, kriteria baik 23%, kriteria cukup 42%, dan sisanya masih dalam proses serta belum diakreditasi sebanyak 13%2. Dapat disimpulkan bahwa peringkat akreditasi yang cukup rendah masih menduduki persentase terbanyak. Hal tersebut tentunya terjadi karena berbagai faktor, diantaranya program studi kedokteran gigi pada beberapa institusi masih tergolong baru didirikan dan masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, beberapa institusi baru memperoleh izin operasional serta dalam proses mengajukan proses akreditasi.

Akreditasi diterapkan salahsatu tujuannya adalah untuk memenuhi standar mutu, perlindungan masyarakat, dan kelayakan program3. Beberapa poin penting dalam akreditasi yang masuk dalam penilaian, diantaranya adalah tata pamong yang baik (good governance); mahasiswa dan lulusan; kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik; serta pembiayaan, sarana prasarana, dan sistem informasi3. Akreditasi sangat penting sebagai tolok ukur capaian institusi dalam menjamin seluruh aspek tersebut. Rendahnya persentase akreditasi tersebut mampu menggambarkan kualitas institusi pendidikan dokter gigi Indonesia hari ini. Tidak terpenuhinya standar mutu maka rentan menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi rendah dan profesionalisme yang diragukan.

Situasi peringkat akreditasi nasional yang saat ini masih belum memenuhi harapan, dihadapkan dengan kenyataan persaingan tingkat global dalam MEA mendatang. Idealnya, saat ini institusi di Indonesia telah memenuhi standardisasi yang lebih tinggi lagi dan melangkah ke jenjang akreditasi dalam skala regional ASEAN yakni AUN-QA SAR (ASEAN University Network-Quality Assurance Self Assessment Report)1. Apabila institusi telah memenuhi standar tersebut, tentu akan memberikan dampak positif berupa institusi yang dianggap setara di level ASEAN, kualitas lulusan perguruan tinggi akan semakin diakui dan lebih optimis dalam bersaing di pada pentas MEA mendatang. Ironisnya kondisi saat ini, paradigma yang berlaku nampaknya hanya sekedar memacu kuantitas namun sedikit mengabaikan kualitas. Dampaknya terhadap kualifikasi dokter gigi sungguh nyata, apabila tidak dibenahi dalam jangka waktu yang panjang.

Permasalahan tersebut tentu dapat diatasi dengan melibatkan seluruh elemen kampus. Mahasiswa dapat memperjuangkan setiap pokok penilaian akreditasi agar dipenuhi dan diupayakan oleh institusi secara nyata. Peran nyata ini contohnya dalam
memberikan masukan selama proses akreditasi, misalnya pada bagian sarana dan prasarana serta kurikulum yang bersinggungan dengan mahasiswa setiap hari. Semakin meningkatnya kesadaran pentingnya standardisasi sektor pendidikan, maka setiap insan civitas akademika akan mendorong institusi untuk senantiasa meningkatkan mutu sekaligus pelayanan dalam rangka untuk kualitas pendidikan yang lebih baik. Hal ini selaras dengan tujuan diadakan akreditasi yaitu agar selalu melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu tinggi1. Kesadaran itu perlu dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama yakni kualitas lulusan dokter gigi Indonesia yang semakin profesional dan mampu bersaing di era globalisasi secara nyata. Semoga.

Sumber referensi
1. AUN Secretariat, 2013, Guidelines for AUN Quality Assessment and Assessors, Thailand.
2. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, http://ban-pt.kemdiknas.go.id/hasil-pencarian.php (12/04/15)
3. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, 2014, Buku I Naskah Akademik Akreditasi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Jakarta.
4. Iswanto, P., 2014, Peluang dan Tantangan Komunitas Ekonomi ASEAN, disampaikan dalam Presentasi Dentistry Interprofessional Seminar FKG UGM, tanggal 11 Oktober 2014.
5. Penerbit Buku Kompas, 2015, Tinjauan Kompas: Menatap Indonesia 2015 Antara Harapan dan Tantangan, PT. Gramedia, Jakarta.
6. UNESCO, What is Globalisation?, http://www.unesco.org/education/tlsf/mods/ theme_c/mod18.html?panel=3#top (19/04/15)

Interprofessional Education (IPE): Inovasi Pendidikan dan Penelitian di Bidang Kedokteran Gigi Berbasis Kolaborasi

Andi Sri Permatasari

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasamuddin

Kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian serius. Hal ini terlihat bahwa penyakit gigi dan mulut masih diderita oleh 90% penduduk Indonesia. Sejak dahulu juga telah diketahui hubungan antara kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan sistemik. Sehingga kita perlu menyadari bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan integral dari kesehatan secara umum yang juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Kontribusi dan kolaborasi yang efektif dari berbagai disiplin ilmu merupakan kunci dari pelayanan kesehatan memberi dampak positif dalam penyelesaian berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut.

Pendidikan dan penelitian adalah kunci untuk mengembangkan dan meningkatkan metode serta kualitas pelayanan kesehatan ke masyarakat. Namun permasalahan umum yang dihadapi oleh mahasiswa kedokteran gigi adalah  minimnya kegiatan penelitian. Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan pendidikan di luar negeri. Oleh karena itu terkait usaha peningkatan mutu sumber daya dan profesionalitas tenaga kesehatan di era global diperlukan inovasi dan strategi yang dimulai pada level sistem pendidikan kedokteran gigi itu sendiri diikuti dengan peningkatan penelitian di Indonesia melalui Interprofessional education yang berbasis kolaborasi.

Interprofessional education atau yang biasa disingkat IPE adalah satu inovasi dalam konsep pendidikan profesi kesehatan yang dicetuskan oleh WHO. IPE merupakan suatu proses dimana sekelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang memiliki perbedaan latar belakang profesi melakukan pembelajaran bersama dalam periode tertentu, berinteraksi dan berkolaborasi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative. Penerapan sistem IPE dalam dunia pendidikan kesehatan di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kualitas mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa kedokteran gigi di Indonesia dalam 3 aspek yang terdapat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi dalam upaya pembangunan kesehatan Indonesia. Agar tenaga kesehatan kedepannya terbiasa melakukan kolaborasi saat di tatanan pelayanan maka perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan pendidikan dengan konsep IPE.

IPE dalam dunia pendidikan dan penelitian melibatkan mahasiswa kesehatan dari berbagai profesi untuk saling belajar secara berdampingan. IPE menekankan kerja sama tim, memahami peran profesi yang lain, tanggung jawab, komunikasi, saling menghormati, dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1996, Universitas Linkoping Swedia memasukkan kurikulum IPE ke dalam kurikulumnya. Mahasiswa kesehatan dari berbagai disiplin ilmu membahas kasus bersama dan diakhir program mereka memberikan paparan tentang kasus tersebut dengan pendekatan holistik.

Penerapan IPE dalam dunia pendidikan dan penelitian dalam bidang kedokteran gigi seharusnya dilakukan sehingga mahasiswa akan terlatih untuk ambil bagian di dalam sebuah tim, bagaimana bisa berkontribusi, mendengar pendapat, dan berdiskusi demi tujuan, bukan hanya dengan mahasiswa jurusan yang sama tetapi juga dengan mahasiswa program kesehatan lain. Pembelajaran IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional di bidang kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain, sehingga dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan dan peningkatan dalam sistem layanan kesehatan secara signifikan di Indonesia.

Kita sebagai mahasiswa kesehatan harus mendukung dan ikut aktif berpartisipasi dalam penerapan sistem Interprofessional education. Sistem ini adalah sistem yang paling efektif yang dapat diimplementsikan dalam sistem pendidikan kesehatan dunia. Sudah banyak bukti dan penelitian yang menunjukkan berbagai manfaat sistem ini. Interprofessional education juga memberikan suatu batasan terhadap wewenang profesi satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada bidang profesi yang merasa terdiskriminasi. Maka dari itu, sebagai mahasiswa calon tenaga kesehatan kita harus mendukung pelaksanaan sistem ini di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui kemampuan interprofessional.

Sekarang adalah masa yang penuh tantangan dan peluang di bidang kedokteran gigi. IPE memberikan kita kesempatan untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait ilmu kedokteran gigi dan mengintegrasikannya dengan kesehatan sistemik. Mahasiswa kedokteran gigi juga harus berperan aktif dalam melakukan penelitian-penelitian yang berbasis kolaborasi. Sehingga dapat muncul solusi-solusi cerdas dari permasalahan yang ada di bidang kedokteran gigi. Perkembangan pesat diagnostik saliva dapat membuka lebih banyak kesempatan untuk dokter gigi untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan kesehatan umum. Selain itu standar akreditasi baru untuk profesi dokter gigi menyatakan bahwa lulusan harus kompeten dalam berkomunikasi dan berkolaborasi dengan anggota lain dari tim kesehatan untuk memfasilitasi penyediaan layanan kesehatan dan jelas bahwa sistem Interprofessional education diharapkan umtuk berperan penting dalam kurikulum kita.