Optimalisasi Pelayanan Dokter Gigi dalam Era Globalisasi dengan Peningkatan Mutu Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia

Danny Tandean
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

 

Era Globalisasi
Globalisasi adalah peristiwa mendunia atau proses membuana dari keadaan lokal atau nasional yang lebih terbatas sebelumnya. Dalam era globalisasi, beberapa bidang seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam kehidupan bernegara dapat terpengaruh dimana hal ini dapat berdampak langsung terhadap bidang kesehatan (Adisasmito W, 2008).
Pada bidang politik, isu kesehatan hanyalah dijadikan alat untuk kepentingan politik sehingga industri kesehatan dalam negeri tentunya kurang dapat bersaing secara bebas yang berimbas terhadap kemunduran dalam pergaulan global. Pada bidang ekonomi, ketidakpastian keadaan perekonomian dapat mengakibatkan tingkat kesehatan penduduk menjadi sangat rawan terhadap perubahan situasi ekonomi maupun global. Pada bidang sosial budaya, peningkatan angka kemiskinan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dapat berdampak langsung pada sektor kesehatan yang menyebabkan terjadinya penurunan derajat kesehatan masyrakat. (Adisasmito W, 2008).

Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia
Dunia pendidikan di Indonesia terus melakukan pembenahan diri demi mendapatkan hasil yang lebih baik terutama dalam era globalisasi yang menuntut output pendidikan agar dapat bersaing secara global maupun internasional. Menurut Wirakartakusumah (1998), dalam hal mencapai terselenggaranya pendidikan yang bermutu dan berkualitas telah muncul suatu istilah manajemen pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia di Indonesia dengan cara mengoptimalkan empat pilar manajemen pendidikan yaitu Otonomi, Akuntabilitas, Akreditasi, dan Evaluasi.
Otonomi dapat diartikan sebagai bentuk pendelegasian kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan staf pengajar, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta penentuan standar akademik. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output yang baik. Akreditasi merupakan suatu proses evaluasi tentang pengembangan mutu lembaga pendidikan dalam menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Evaluasi adalah suatu upaya sistematis dalam mengumpulkan dan memproses informasi yang menghasilkan kesimpulan tentang nilai, manfaat, serta
kinerja dari lembaga pendidikan atau unit kerja yang dievaluasi. Evaluasi perlu dilakukan agar solusi-solusi dalam menyelesaikan permasalahan dan kekurangan yang dimiliki dapat terpikirkan sehingga tercipta sistem pembenahan diri yang semakin baik (Solihin, 2012).

Upaya Optimalisasi Pelayanan Dokter Gigi
Pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal adalah kompetensi dan kualitas yang dimiliki oleh seorang dokter gigi. Menurut penelitian Hunter (2006), dibutuhkan penguasaan empat substansi dasar untuk menilai kompetensi dan kualitas seseorang yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), perilaku (attitudes), dan pengalaman (experiences). Pengetahuan teoritis didapat melalui sumber informasi, berupa hal-hal yang telah diyakini kebenarannya, sedangkan keterampilan mengedepankan kemampuan dalam melakukan tindakan suatu pengetahuan terutama profesi dokter gigi yang sangat mengedepankan keterampilan. Perilaku juga merupakan hal yang penting karena tidak ada gunanya memiliki segudang pengetahuan namun tidak dibarengi dengan akhlak yang baik. Pengalaman juga mengajarkan kita lebih banyak dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu yang kita dapat selama perkuliahan. Keempat hal ini sangat diperlukan oleh dokter gigi agar dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.
Faktor eksternal adalah tata kelola pelayanan kesehatan di Indonesia yang merujuk pada Sistem Kesehatan Nasional (SKN). SKN adalah bentuk penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Dalam SKN, ada tiga aspek yang dilaksanakan tenaga kesehatan yaitu aspek promotif, preventif dan kuratif. Namun pada kenyataannya, tenaga kesehatan khususnya tenaga kesehatan gigi lebih terkonsentrasi pada aspek kuratif, sementara aspek promotif dan preventif menjadi prioritas selanjutnya setelah aspek kuratif terlaksana. Selain puskesmas, terdapat juga praktik profesional dokter gigi swasta dimana seperti yang kita tahu bahwa biaya perawatan kesehatan gigi dan mulut tidak murah, sedangkan masyarakat umumnya memiliki keterbatasan finansial. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan rendahnya tingkat kesehatan gigi dan mulut di masyarakat.
Berdasarkan masalah tersebut, perlunya dibentuk suatu instrumen baru untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan gigi di Indonesia dengan cara mengimplementasikan skema dokter gigi keluarga dalam SKN yang diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan pengelolaan pelayanan kesehatan gigi primer di masyarakat. Dokter gigi keluarga diharapkan dapat menjadi gate-keeper dalam SKN sebagai pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan menerapkan sistem managed-care yang terdiri dari 3 pihak yaitu pemberi pelayanan kesehatan (dokter gigi keluarga), penjamin (pemerintah atau lembaga asuransi) dan penerima jasa pelayanan
kesehatan (masyarakat). Dokter gigi keluarga diharapkan dapat mengefektifkan penggunaan sumber daya manusia yang diperlukan agar dapat menyelesaikan seluruh keluhan masyarakat mengenai kesehatan gigi yang termasuk dalam batas kompetensi dan kewenangannya dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Leave a Reply

  • (will not be published)


+ eight = 9