Implementasi Program 3K Sebagai Suplemen Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia di Era Asean Free Trade Area

Penulis: Johan Adiyasa

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Pada tahun 2015 ini, negara-negara yang tergabung dalam Association of South East Asian Nations (ASEAN), termasuk Indonesia, akan memulai pasar bebas di bidang pengadaan barang dan jasa. Di bidang jasa, dokter gigi merupakan salah satu profesi yang diliberalisasi oleh adanya perjanjian ini. Pada satu sisi, keberadaan ASEAN Free Trade Area (AFTA) ini dipandang sebagai peluang bagi dokter gigi Indonesia untuk melebarkan sayap ke negeri tetangga dan merupakan kesempatan terjadinya pemerataan jumlah dokter gigi di setiap negara anggota ASEAN. Namun, di sisi lain AFTA juga dipandang sebagai ancaman dimana dokter gigi Indonesia harus bersaing dengan dokter gigi asing. Untuk mampu bersaing, dokter gigi Indonesia tentunya harus memiliki kompetensi yang lebih dan dapat ditonjolkan kepada masyarakat umum. Oleh sebab itu, diperlukan pembaharuan kurikulum pendidikan kedokteran gigi Indonesia yang aplikatif dan berkesinambungan sehingga dapat meningkatkan kompetensi lulusan dokter giginya.

Program K3 merupakan sebuah program suplemen pendidikan kedokteran gigi Indonesia yang mencakup tiga hal, yakni kode etik profesi kesehatan, komunikasi kesehatan dan kolaborasi antar profesi kesehatan. Program 3K ini bertujuan agar lulusan dokter gigi Indonesia mampu berkolaborasi dengan rekan sejawatnya dan profesi kesehatan lainnya demi pelayanan kesehatan yang lebih baik. Untuk mampu berkolaborasi, mahasiswa harus mampu menguasai prinsip efektif dalam berkomunikasi, baik dengan pasien, rekan sejawat, dan profesi kesehatan lainnya. Dalam berkolaborasi dikenal pula sistem rujukkan. Untuk merujuk, calon dokter gigi harus mengerti secara keseluruhan batasan kompetensinya serta kompetensi tenaga kesehatan lainnya yang dapat dipelajari dalam mata kuliah kode etik profesi kesehatan.

Kode etik profesi kesehatan merupakan mata kuliah yang mengintegrasikan kode etik dan batasan kompetensi setiap tenaga kesehatan di Indonesia. Mata kuliah ini tidak hanya bertujuan agar setiap mahasiswa kedokteran gigi mengerti kompetensi dokter gigi saja, namun juga agar mahasiswa kedokteran gigi memahami kompetensi tenaga kesehatan lainnya. Hal ini disebabkan oleh berkembangnya sistem rujukan yang memprioritaskan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik oleh ahli di bidangnya. Dengan demikian, tentunya mahasiswa kedokteran gigi perlu menentukan apakah pasien perlu dirujuk dan kepada siapa pasien perlu dirujuk? Apabila sistem rujukan ini berjalan dengan efektif, tentunya pasien juga akan merasakan manfaatnya dengan mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik diikuti dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat.

Komunikasi kesehatan merupakan mata kuliah yang mengedepankan prinsip berkomunikasi yang efektif. Komunikasi yang dimaksud disini tidak hanya komunikasi antara dokter gigi dengan profesi kesehatan lainnya, namun juga antara dokter gigi dengan pasien. Agar mampu berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya, dokter gigi Indonesia dituntut untuk mengedepankan sikap saling menghargai dengan rekan sejawat dan profesi kesehatan lainnya. Mahasiswa kedokteran gigi Indonesia akan menghadapi pasien dari segala usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Tentunya anak-anak dan lansia memiliki kondisi psikososial yang berbeda, untuk itu cara menghadapi dan berkomunikasi dengan pasien-pasien ini tentunya juga berbeda. Untuk itulah komunikasi kesehatan hadir untuk menjembatani celah antara mahasiswa dengan kelompok usia pasien yang berbeda tersebut.

Kolaborasi antar profesi kesehatan merupakan hal yang perlu ditonjolkan oleh dokter gigi Indonesia. Melalui hal ini, dokter gigi Indonesia mampu unggul ketika bersaing dengan dokter gigi asing karena dapat memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara holistik. Dalam berkolaborasi, tenaga kesehatan juga dapat membangun relasi dengan profesi kesehatan lainnya, serta dapat meminimalkan risiko terjadinya komplikasi pada pasien karena ditangani oleh ahli di bidangnya masingmasing. Dengan kata lain, tidak hanya pasien yang diuntungkan ketika tenaga kesehatan berkolaborasi, namun juga tenaga kesehatan itu sendiri.

Oleh sebab itu, ketika program 3K ini diimplementasikan sebagai suplemen pendidikan kedokteran gigi Indonesia, maka akan terjadi peningkatan kualitas kurikulum kedokteran gigi sehingga menghasilkan lulusan dokter gigi yang memandang keberadaan AFTA bukan sebagai ancaman, melainkan peluang bagi dokter gigi Indonesia untuk dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan Indonesia dan tenaga kesehatan asing demi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terbangunnya relasi yang sehat antara dokter gigi dengan rekan sejawat dan profesi kesehatan lainnya, serta meminimalisasi risiko kesalahan perawatan yang dapat terjadi.

Referensi:
1. Freshman, B., Rubino, L. and Chassiakos, Y. (2010). Collaboration across the disciplines in health care. Sudbury, Mass.: Jones and Bartlett Publishers.
2. Gerald Z. Wright. Behaviour Management in Dentistry for Children. (1975) Philadelphia: W.B. Saunders Co.
3. Wright, K. and Moore, S. (2008). Applied health communication. Cresskill, NJ: Hampton Press.

Leave a Reply

  • (will not be published)


+ 7 = twelve