“Quo Vadis” Standardisasi Pendidikan Dokter Gigi Indonesia

Oleh: Muhammad Fahmi Alfian

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Globalisasi, suatu kata yang sangat familier dan saat ini memberikan berbagai dampak signifikan di masyarakat dunia. Globalisasi dimaknai dengan dunia yang tanpa batas, transaksi perdagangan bebas mulai dari barang hingga jasa6. Sektor jasa yang kian bebas sama artinya dengan persaingan tinggi dalam mencari kerja. Salahsatu dampak globalisasi itulah yang kemudian menyebabkan profesionalisme kian menjadi tuntutan. Profesionalisme tentu tidak dapat diperoleh secara instan namun melalui proses, salahsatunya melalui pendidikan yang berkualitas.

Tantangan Indonesia dalam menghadapi globalisasi dalam waktu dekat ini adalah ASEAN Community. Per 1 Januari 2016, seluruh negara ASEAN telah sepakat akan memasuki babak baru tersebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sebagai salahsatu implementasinya5. Transformasi tersebut tentu menimbulkan efek bak pisau bermata dua. Kondisi Indonesia yang saat ini terbesar di Asia Tenggara dan memiliki penduduk terbanyak namun dengan rasio dokter gigi yang rendah5, akan menjadi zona target yang empuk sekaligus hanya menjadi pasar semata apabila kita tidak mampu mengantisipasinya. Tantangan muncul ketika dokter gigi Indonesia memiliki kualifikasi yang tinggi dan mampu bekerja di negeri seberang, namun sebaliknya apabila kualitas lulusan rendah maka dokter gigi asing yang lebih profesional akan berpeluang bekerja di Indonesia. Oleh karena itu, perlu persiapan khusus dan peningkatan kualitas di bidang kedokteran gigi agar dapat turut bermain di pentas MEA. Salahsatu upaya persiapan terhadap arus globalisasi tersebut yakni standardisasi4.

Standardisasi merupakan salahsatu tameng paling ampuh dalam menjalani globalisasi tak terkecuali dalam sektor pendidikan dokter gigi. Salahsatu indikator penerapan standar dalam sektor pendidikan adalah akreditasi. Akreditasi berperan cukup penting karena dapat menunjukkan indikator jaminan mutu dan penyetaraan kualitas pendidikan. Akreditasi sektor pendidikan dokter gigi di Indonesia saat ini masih perlu mendapat perhatian khusus. Data yang dihimpun melalui BAN-PT per 12 April 2015 menunjukkan bahwa peringkat akreditasi dari 31 institusi Program Studi Kedokteran Gigi se-Indonesia yang memiliki kriteria sangat baik hanya sejumlah 22%, kriteria baik 23%, kriteria cukup 42%, dan sisanya masih dalam proses serta belum diakreditasi sebanyak 13%2. Dapat disimpulkan bahwa peringkat akreditasi yang cukup rendah masih menduduki persentase terbanyak. Hal tersebut tentunya terjadi karena berbagai faktor, diantaranya program studi kedokteran gigi pada beberapa institusi masih tergolong baru didirikan dan masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, beberapa institusi baru memperoleh izin operasional serta dalam proses mengajukan proses akreditasi.

Akreditasi diterapkan salahsatu tujuannya adalah untuk memenuhi standar mutu, perlindungan masyarakat, dan kelayakan program3. Beberapa poin penting dalam akreditasi yang masuk dalam penilaian, diantaranya adalah tata pamong yang baik (good governance); mahasiswa dan lulusan; kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik; serta pembiayaan, sarana prasarana, dan sistem informasi3. Akreditasi sangat penting sebagai tolok ukur capaian institusi dalam menjamin seluruh aspek tersebut. Rendahnya persentase akreditasi tersebut mampu menggambarkan kualitas institusi pendidikan dokter gigi Indonesia hari ini. Tidak terpenuhinya standar mutu maka rentan menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi rendah dan profesionalisme yang diragukan.

Situasi peringkat akreditasi nasional yang saat ini masih belum memenuhi harapan, dihadapkan dengan kenyataan persaingan tingkat global dalam MEA mendatang. Idealnya, saat ini institusi di Indonesia telah memenuhi standardisasi yang lebih tinggi lagi dan melangkah ke jenjang akreditasi dalam skala regional ASEAN yakni AUN-QA SAR (ASEAN University Network-Quality Assurance Self Assessment Report)1. Apabila institusi telah memenuhi standar tersebut, tentu akan memberikan dampak positif berupa institusi yang dianggap setara di level ASEAN, kualitas lulusan perguruan tinggi akan semakin diakui dan lebih optimis dalam bersaing di pada pentas MEA mendatang. Ironisnya kondisi saat ini, paradigma yang berlaku nampaknya hanya sekedar memacu kuantitas namun sedikit mengabaikan kualitas. Dampaknya terhadap kualifikasi dokter gigi sungguh nyata, apabila tidak dibenahi dalam jangka waktu yang panjang.

Permasalahan tersebut tentu dapat diatasi dengan melibatkan seluruh elemen kampus. Mahasiswa dapat memperjuangkan setiap pokok penilaian akreditasi agar dipenuhi dan diupayakan oleh institusi secara nyata. Peran nyata ini contohnya dalam
memberikan masukan selama proses akreditasi, misalnya pada bagian sarana dan prasarana serta kurikulum yang bersinggungan dengan mahasiswa setiap hari. Semakin meningkatnya kesadaran pentingnya standardisasi sektor pendidikan, maka setiap insan civitas akademika akan mendorong institusi untuk senantiasa meningkatkan mutu sekaligus pelayanan dalam rangka untuk kualitas pendidikan yang lebih baik. Hal ini selaras dengan tujuan diadakan akreditasi yaitu agar selalu melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu tinggi1. Kesadaran itu perlu dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama yakni kualitas lulusan dokter gigi Indonesia yang semakin profesional dan mampu bersaing di era globalisasi secara nyata. Semoga.

Sumber referensi
1. AUN Secretariat, 2013, Guidelines for AUN Quality Assessment and Assessors, Thailand.
2. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, http://ban-pt.kemdiknas.go.id/hasil-pencarian.php (12/04/15)
3. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, 2014, Buku I Naskah Akademik Akreditasi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Jakarta.
4. Iswanto, P., 2014, Peluang dan Tantangan Komunitas Ekonomi ASEAN, disampaikan dalam Presentasi Dentistry Interprofessional Seminar FKG UGM, tanggal 11 Oktober 2014.
5. Penerbit Buku Kompas, 2015, Tinjauan Kompas: Menatap Indonesia 2015 Antara Harapan dan Tantangan, PT. Gramedia, Jakarta.
6. UNESCO, What is Globalisation?, http://www.unesco.org/education/tlsf/mods/ theme_c/mod18.html?panel=3#top (19/04/15)

Leave a Reply

  • (will not be published)


two + = 6